Flicker Images

Selasa, 11 Juni 2024

HUKUM ADOPSI ANAK DALAM ISLAM


Hukum Adopsi Anak dalam Islam, Penuhi Hak Anak Angkat!

Dahulu at-tabanni atau adopsi anak adalah praktek yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. Bahkan Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pun sempat mengadopsi Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat.
 
Namun tabanni atau adopsi ini dihapuskan kebolehannya dengan turunnya ayat:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ
 
"Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak kandung mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu" (QS. Al Ahzab: 5).
 
Syaikh Ibnu Baz menjelaskan:

وكان التبني في الجاهلية معروفاً، كان زيد بن حارثة يدعى زيد بن محمد فلما أنزل الله الآية نسب إلى أبيه زيد بن حارثة، واستقرت الشريعة بأنه يجب أن ينسب الناس إلى آبائهم، وأنه لا يجوز التبني لأي إنسان
 
"Dahulu tabanni adalah perkara yang lumrah di zaman Jahiliyah. Zaid bin Haritsah dahulu menyebut dirinya sebagai Zaid bin Muhammad. Ketika Allah turunkan ayat di atas, ia kembali menisbatkan diri kepada ayahnya, menjadi Zaid bin Haritsah. Dan sejak itu syariat menetapkan wajibnya setiap anak menisbatkan diri pada ayah-ayah mereka dan tidak boleh melakukan tabanni untuk siapapun".
Juga dalam hadits dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

ليسَ مِن رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أبِيهِ - وهو يَعْلَمُهُ - إلَّا كَفَرَ
 
"Siapa yang menisbatkan dirinya sebagai anak dari orang yang bukan bapak kandungnya, padahal ia tahu orang itu bukan bapak kandungnya, maka ia kufur" (HR. Bukhari no. 3508, Muslim no. 61).
Dalam hadits dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:

مَن ادَّعى إلى غيرِ أبيه ، أو انتمى إلى غيرِ مَواليه ، فعليه لعنةُ اللهِ المتَتَابِعَةُ إلى يومِ القيامةِ
 
"Siapa yang menisbatkan dirinya sebagai anak dari orang yang bukan bapak kandungnya, atau menisbatkan diri kepada selain keluarganya, maka baginya laknat Allah yang terus-menerus sampai hari Kiamat" (HR. Abu Daud no.5115, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).
Ayat dan hadits di atas menunjukkan terlarangnya menisbatkan diri kepada ayah yang bukan ayah kandungnya atau menisbatkan nasab yang bukan nasabnya. Dan perbuatan ini termasuk DOSA BESAR.
 
Ini menunjukkan terlarangnya adopsi anak, jika anak tersebut dianggap sebagai anak sendiri dan dinasabkan kepada orang tua asuhnya.
Adapun jika adopsi anak berupa pengasuhan, mendidik dan memberi nafkah seorang anak sampai besar, namun tidak dianggap anak dan tidak dinasabkan kepada orang tua asuhnya, hukum asalnya boleh saja.
Syaikh Ibnu Baz melanjutkan:

أما التربية فلا بأس إذا ربوا ولد غيرهم وأحسنوا إليه على أنه ينسب لأبيه لا إليه فلا بأس بذلك، أما أن يقال: ولد فلان، وليس ولد فلان فلا يجوز مطلقاً
 
"Adapun mendidik (seorang anak sampai besar), ini tidak mengapa. Jika ada pasangan yang mengasuh anak dari orang lain, dan berbuat baik kepada si anak (sampai besar), dan si anak tetap dinasabkan kepada orang tua kandungnya, maka ini tidak mengapa. Adapun jika sampai dikatakan: "ini adalah anak si bapak asuh, bukan anak si Fulan (orang tua kandung), maka tidak boleh sama sekali".
Namun anak adopsi, baik adopsi yang haram maupun yang mubah, ia statusnya tetap ajnabi (orang lain). Jika ia anak lelaki, maka ia bukan mahram bagi ibu asuhnya, tidak boleh melihat auratnya, atau bersentuhan, atau berduaan.
 
Jika ia anak perempuan, maka ia bukan mahram bagi ayah asuhnya, sang bapak tidak boleh melihat aurat anak adopsinya, atau bersentuhan, atau berduaan, dan juga tidak boleh menjadi wali nikahnya.
Tentu ini akan menjadi sulit ketika anak adopsi sudah mulai baligh dan terkena beban syariat, sedangkan ia tinggal serumah dengan orang tua asuhnya. Jika ia wanita, harus berjilbab sempurna di dalam rumah. Jika ia lelaki, maka ibu asuhnya harus berjilbab selalu di dalam rumah. Dan adab-adab lainnya terkait sentuhan, melihat aurat, berduaan dan lainnya.
Maka bagi yang ingin adopsi anak (dengan model yang mubah), harap dipelajari dulu ilmunya dan dipertimbangkan masak-masak konsekuensinya. Jangan sampai niat baik justru menuai dosa-dosa yang terjadi harian di rumah.
Semoga Allah memberi taufik.
 
Ustadz Yulian Purnama  حفظه الله

RUJUKAN DALAM AGAMA ISLAM

 Bimbingan Islam - Kebanyakan kaum Muslimin justru lebih teliti dan  berhati-hati dalam memilih dan menyeleksi sumber rujukan dalam  urusan-urusan dunia mereka, seperti ketika mereka ingin berkonsultasi  tentang kesehatan atau mengobati penyakit yang

Rujukan kita dalam beragama adalah :

1. Al-Qur'an

Dalilnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain Allah, sedikit sekali dari kalian yang mau mengambil pelajaran.” (Al Qur'an surah al-A’raf: 3)

2. Hadits

Al quran dan hadis, tidak bisa dipisahkan karena dua hal tersebut sama sama berfungsi sebagai rujukan utama dalam agama islam dan wajib bagi setiap muslim untuk berpegang teguh kepada kedunya.

Dalil untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an dan hadits disebutkan dalam Muwatho’ Imam Malik,

إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه الحديث

“Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: Al Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (HR. Al Hakim, sanadnya shahih kata Al Hakim).

3. Pemahaman para sahabat

Agama islam adalah agama yang punya rujukan yaitu dalil, dan yang paling pertama memahami dalil-dalil tersebut adalah para sahabat Radhiallahu Ta'ala anhum, oleh karena itu kita wajib mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Alasannya adalah sebagai berikut :

1. Mereka belajar langsung kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

2. Mereka adalah orang-orang yang di jamin oleh Allah akan masuk surga.

3. Mereka adalah orang-orang yang di puji dalam al qur'an, silahkan buka Al qur'an surah At-Taubah ayat 100.

Dalil yang memerintahkan agar mereka di ikuti adalah hadis :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

4. Pemahaman Para Tabi'iin

Tabi’in (التابعون, ‘pengikut’‎), adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi, bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi’in merupakan murid Sahabat Nabi, sehingga otomatis ilmu-ilmu mereka dapat di percaya dan bisa dijadikan rujukan.

5. Pemahaman para atba'uttabi'iin

Tabi’ut Tabi’in atau Atbaut Tabi’in (تابع التابعين‎) adalah generasi setelah Tabi’in, artinya pengikut Tabi’in, adalah orang Islam teman sepergaulan dengan para Tabi’in dan tidak mengalami masa hidup Sahabat Nabi. Tabi’ut Tabi’in adalah di antara tiga kurun generasi terbaik dalam sejarah Islam, setelah Tabi’in dan Shahabat. Tabi’ut Tabi’in disebut juga murid Tabi’in sehingga bisa kita pastikan bahwa mereka-mereka itu layak dijadikan rujukan dalam beragama. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

6. Dan yang mengikuti mereka

Maksudnya adalah ulama atau orang yang berilmu dan berpegang pada al qur'an dan assunnah dan pemahaman 3 generasi yang telah kita sebutkan tadi yaitu sahabat, tabi'iin dan atba'uttabi'iin. Mereka itu adalah orang-orang yang layak di ambil ilmunya.

Demikian, semoga bermanfaat.

Senin, 10 Juni 2024

GOLONGAN YANG TIDAK AKAN DIAJAK BICARA OLEH ALLAH DI AKHIRAT KELAK

 Tiga Orang Yang Tidak Akan Diajak Bicara Oleh Allah Pada Hari Kiamat -  Radio Rodja 756 AM

 ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
 
“Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim, 106)
 
Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki
Larangan isbal terdapat dalam hadits lainnya 

1. “Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).
 
2. Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu !”. Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda,
Naikkan lagi !” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya ?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086).

3. Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu’anhu beliau berkata, Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangi kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata : ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’” (HR. Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah).

🌏 Muslim.or.id
@Sabilussalaf


PEMAHAMAN YANG SESAT DAN MENYESATKAN

Menjaga Umat Dari Lisan Yang Sesat-Menyesatkan - PenaMabda

Dalam beragama itu, mesti berpegang teguh dengan petunjuk alquran dan assunnah agar tidak tersesat jalan. Keduanya mesti menjadi pedoman agar tidak menyimpang dari kebenaran.

Dari Anas Bin Malik radhiyallahu anhu, dia berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ (رواه الموطأ مالك).

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat selama-lamanya selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yakni kitab Allah (alquran) dan sunnah NabiNya (al hadits). (HR. Imam Malik - Al Muwaththo).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang tentang ayat 123 dalam surah Thaha:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى

Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha: 123)

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa dia tidak akan sesat di dunia ini dan tidak akan celaka di akhiratnya nanti.

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku. (QS. Thaha: 124)

Yaitu menentang perintah-Ku dan menentang apa yang Kuturunkan kepada rasul-rasul-Ku, lalu ia berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil petunjuk dari selainnya.

Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)

Yakni kehidupan yang sempit di dunia. Maka tiada ketenangan baginya dan dadanya tidak lapang, bahkan selalu sempit dan sesak karena kesesatannya; walaupun pada lahiriahnya ia hidup mewah dan memakai pakaian apa saja yang disukainya, memakan makanan apa saja yang disukainya, dan bertempat tinggal di rumah yang disukainya. Sekalipun hidup dengan semua kemewahan itu, pada hakikatnya hatinya tidak mempunyai keyakinan yang mantap dan tidak mempunyai pegangan petunjuk, bahkan hatinya selalu khawatir, bingung, dan ragu. Dia terus-menerus tenggelam di dalam keragu-raguannya. Hal inilah yang dimaksudkan dengan penghidupan yang sempit. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Thaha 123-124).

Berkata As Syaikh Rabie hafidzahullah :

"دليلنا هو القرآن والسنة فمن فقدهما في أي ميدان من الميادين ضل" مرحباً يا طالب العلم ٢٤٥

"Dalil kami adalah Al Qur'an dan Sunnah, maka barangsiapa yang mengilangkan keduanya di salah satu bidang dari semua bidang (agama) maka dia sesat " ( kitab marhaban yaa thalibin ilmi: halaman 245).

Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah:

وكل طريق لم يصحبها دليل القرآن و السنة و هي من طرق الجحيم و الشيطان الرجيم

Setiap jalan yang tidak berlandaskan padanya dalil alquran dan as sunnah maka dia adalah diantara jalan-jalan (yang menuju) neraka jahim dan jalan-jalan syaitan yang terkutuk. Madarijus Salikin 2/439.

Ada sebagian orang, sebagian dai atau sebagian kelompok, yang mendakwahkan untuk kembali kepada alquran dan assunnah, namun mereka tersesat dari jalan kebenaran dan tersesat juga orang yang mengikutinya, kok bisa demikian?

Ya, karena masalahnya dipemahaman. Mereka memahami alquran dan assunnah, dengan pemahaman akalnya sendiri, perasaannya atau hawa nafsunya. Mereka tidak memahami alquran dan assunnah sesuai dengan bagaimana para salafushsholeh memahami keduanya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An Nisa 115).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi. Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nash syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka (para sahabat) secara' nyata. Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka. (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nisa 15).

Berkata Syekh As Sa'di rahimahullah :

أي: ومن يخالف الرسول صلى الله عليه وسلم ويعانده فيما جاء به { مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى ْ} بالدلائل القرآنية والبراهين النبوية. { وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ ْ} وسبيلهم هو طريقهم في عقائدهم وأعمالهم { نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى ْ} أي: نتركه وما اختاره لنفسه، ونخذله فلا نوفقه للخير، لكونه رأى الحق وعلمه وتركه، فجزاؤه من الله عدلاً أن يبقيه في ضلاله حائرا ويزداد ضلالا إلى ضلاله. كما قال تعالى: { فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ْ}

Maksudnya, barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah dan membangkang terhadap apa yang dibawa olehnya, “sesudah jelas kebenaran baginya” dengan dalil-dalil ALQURAN dan penjelasan ASSUNNAH, “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin (para sahabat),” jalan mereka adalah cara mereka dalam berakidah dan beramal, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu,” yaitu Kami membiarkannya dengan apa yang dipilih untuk dirinya dan Kami menghinakannya, Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, karena ia telah menyaksikan kebenaran dan mengetahuinya, namun tidak mengikutinya, maka balasan baginya dari Allah adalah sebuah keadilan yaitu membiarkannya tetap dalam kesesatannya dengan kondisi bingung hingga kesesatannya bertambah di atas kesesatan, sebagaimana Allah berfirman, " Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaff:5). (Tafsir As Sa'di).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

من ظن أنه يأخذ من الكتاب والسنة بدون أن يقتدي بالصحابة ويتبع غير سبيلهم، فهو من أهل البدع.

“Siapa yang menyangka bahwa dia cukup mengambil al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa perlu meneladani para Shahabat dan dia mengikuti selain jalan yang mereka tempuh, maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah, hlm. 556)

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

نعم،من خالف الكتاب المستبين والسنة المستفيضة او ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا يعامل بما يعامل به اهل البدع"(الفتاوى:٢

“Na'am, siapa saja yang menyelisihi Al-Kitab (alquran) yang sangat jelas dan As-Sunnah yang terperinci atau apa yang menjadi kesepakatan salaf, maka tidak ada udzur padanya dan dia disikapi seperti menyikapi ahli bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 24/172).

Dan Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :

مَنْ عَدَلَ عَنْ مَذَاهِبِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَفْسِيرِهِمْ إلَى مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ كَانَ مُخْطِئًا فِي ذَلِكَ بَلْ مُبْتَدِعًا وَإِنْ كَانَ مُجْتَهِدًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ.

“Siapa yang berpaling dari madzhab Shahabat dan Tabi’in serta berpaling dari tafsir mereka kepada hal-hal yang menyelisihinya, maka dia salah dalam hal tersebut, bahkan dia menjadi mubtadi’ walaupun dia seorang mujtahid yang jika berijtihad pada perkara-perkara yang jika salah akan diampuni kesalahannya.” (Majmu’ Al-Fatawa 13/361).

Banyak para dai tergelincir, termasuk yang lagi viral sekarang ini tentang ayat musik. Inti permasalahannya dipemahaman. Pemahamannya menyimpang dari pemahaman para salafushsholeh, sehingga dia sesat dan menyesatkan. Tinggalkan dai-dai yang seperti ini dan juga orang-orang yang memuji dan membela mereka yang jatuh kepada kebid'ahan.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah :

 و يجب عقوبة كل من انتسب إلى أهل البدع أو ذب عنهم أو أثنى عليهم أو عظم كتبهم أو عرف بمساعدتهم و معاونتهم أو كره الكلام فيهم أو أخذ يعتذر لهم،  بل تجب عقوبة كل من عرف حالهم و لم يعاون على القيام عليهم؛ فإن القيام عليهم من أوجب الواجبات.

“Dan wajib adanya hukuman terhadap siapa saja yang menisbatkan diri kepada ahlul bid’ah, membela mereka, memuji mereka, memuliakan kitab-kitab mereka, senang membantu dan menolong mereka, MEMBENCI KRITIKAN YANG DITUJUKAN KEPADA MEREKA ATAU SENANG MEMBERIKAN UDZUR UNTUK MEREKA.

Bahkan wajib MEMBERIKAN HUKUMAN kepada siapa saja yang sebenarnya mengetahui keadaan ahlul bid’ah, namun tidak memberikan pertolongan kepada orang-orang yang membantah mereka. (Majmu’ Al-Fatawa, 2/132).

AFM

Copas dari berbagai sumber

KEUTAMAAN HAUQALAH

Dunia Islam - Hauqalah #Hadis #SahihBukhari #hauqolah... | Facebook

💠 Ketika badan berbaring tak berdaya karena sakit, akan tetapi lisan kita terkadang masih bisa digunakan.

💠 Oleh karena itu sebaiknya lisan kita digunakan untuk berdzikir, selain doa-doa kesembuhan dan kebaikan dunia-akhirat ada juga wirid selama sakit yang sering kita baca dan mudah diucapkan yaitu “Hauqalah” atau mengucapakan (لا حول ولا قوة إلا بالله) “laa haula wala quwwata illa billah”.

💠 Bisa jadi dengan dzikir ini kita diberikan kesembuhan dan kemudahan dunia-akhirat.

 
♻️ Beberapa Keutamaan hauqalah

Sebaiknya kami bawakan beberapa keutamaan hauqalah sebelumnya:

⚛️-Merupakan tabungan/simpanan untuk surga

💟 Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam bersabda,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »

“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’”[1]

💗Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال:”هي كنز من كنوز الجنة” والكنز مال مجتمع لا يحتاج إلى جمع؛ وذلك أنَّها تتضمن التوكل والافتقار إلى الله تعالى.

“Nabi Shallalahu ’alaihi  Wasallam mengatakan “salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi “, lafadz (الكنز) “al-Kanzu” maknanya adalah harta yang terkumpul dan tidak membutuhkan  lafadz jamak (كنوز), hal tersebut karena hauqalah mengandung makna tawakkal dan iftiqar (membutuhkan) Allah Ta’ala.”[2]

⚛️-Merupakan salah satu dari pinta surga

💗 Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,

ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد

“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”[3]

⚛️-Amalan yang dianjurkan untuk sering dibaca

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

💗Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.[4]

🚦Hauqalah hendaknya sering-sering dibaca oleh orang sakit

💗Syaikh Abdullah bin AL-Jibrin rahimahullah ditanya,

س: يوصي بعض الزائرين المريض بالإكثار من الحوقلة ( لا حول ولا قوة إلا بالله ) فهل لنا أن نعرف من فضيلتكم أهمية هذه الكلمة وهل ورد فيها شيء من السنة؟

“Sebagian penjenguk orang yang sakit memberikan nasihat agar si sakit banyak-banyak membaca hauqalah (laa haula wala quwwata illa billah), apakah urgensi dari kalimat ini dan apakah terdapat dalam sunnah?”

💗Beliau menjawab,

نعم …ومعنى هذه الجملة اعتراف الإنسان بعجزه وضعفه إلا أن يقويه ربه، فكأنه يقول: يا رب ليس لي حول ولا تحول من حال إلى حال ولا قدرة لي على مزاولة الأعمال إلا بك، فأنا محتاج إلى تقويتك وإمدادك، ففيها البراءة من الحول والقوة، وإن الرب تعالى هو الذي يملك ذلك، ويمد عباده بما يعينهم على أمر دنياهم ودينهم، والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

💗“iya…Makna kalimat ini (hauqalah) adalah pengakuan manusia akan tidak berdaya serta lemahnya dirinya dan berharap agar Rabb-nya memberikan kekuatan padanya, seakan-akan ia  (si sakit) berkata, ‘wahai Rabb-ku, hamba tidak memiliki daya dan tidak bisa mengubah keadaan, tidak pula memiliki upaya dalam melakukan amal kecuali dengan bantuan-Mu, Hamba membutuhkan taufik dan bantuan-Mu.

💗Dalam kalimat ini terdapat pengakuan ketidakmampuan dalam daya dan upaya karena hanya Allah Ta’ala yang memilikinya.

💗Ia membantu dan menolong hamba-Nnya dalam urusan agama dan dunia.”[5]

🚦Penyakit yang diderita termasuk bahaya dan bahaya tersebut bisa dihilangkan dan diangkat, Makhul rahimahullah berkata,

)) قال مكحول : فمن قال : (( لا حول ولا قوة إلا بالله ولا منجا من الله إلا إليه ، كشف الله عنه سبعين بابا من الضر أدناها الفقر ))

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa haula wala quwwata illa billah wala manjaa minallah illa ilaih’ maka Allah akan mengangkat darinya 70 pintu bahaya dan mencegah kefakiran darinya.[6]

💗 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وقول ” لا حول ولا قوة إلا بالله ” يوجب الإعانة ؛ ولهذا سنها النبي صلى الله عليه وسلم إذا قال المؤذن : ” حي على الصلاة . فيقول : المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله فإذا قال : حي على الفلاح قال المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله “

“Ucapan laa haula wala quwwata illa billah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan), oleh karena itu Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam  memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “hayya ‘alas shalah”, maka dijawab, ‘laa haula wala quwwata illa billah’, jika muadzzin mengucapkan, ‘hayya ‘alal falah’, dijawab’ laa haula wala quwwata illa billah’ (minta bantuan kepada Allah Agar bisa melaksanakannya, pent)”[7]

💟 Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafidzhullah berkata,

أنَّها كلمة استعانة بالله العظيم، فحريٌّ بقائلها والمحافظ عليها أن يظفر بعون الله له وتوفيقه وتسديده

“Kalimat ini adalah permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Agung, layak bagi pengucapnya dan menjaganya (wiridnya) agar ia berhasil dengan bantuan, taufik dan  petunjuk dari Allah.”[8]

🚦Demikianlan jika kita menjenguk orang sakit atau sedang ditimpa penyakit maka hendaknya memperbanyak membaca hauqalah.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

[1] HR. Bukhari no.4205, Muslim no.7037

[2] Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah

[3] HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’ no.2610

[4] HR. Ahmad 5/159, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no, 2166

[5] Fatawa Asy-Syar’iyyah fii Masa’ilit Thibbiyah pertanyaan no. 4

[6] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihshahihkan oleh al-Hakim

[7] Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah

[8] Dalalaatul Hauqalah Al-Aqdiyah, sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?p=38919&langid=3

http://muslimafiyah.com/orang-sakit-sering-sering-membaca-hauqalah-laa-haula-wala-quwwata-illa-billah.html

Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma'had Al Ilmi Yogyakarta)

💟 Hanya Alloh yang memberi Taufik & hidayah untuk berbuat kebajikan.

🤲 Yang Selalu Mengharap Ampunan Dari ROBBnya.

Barokalloh fiikum