Flicker Images

Sabtu, 24 November 2018

*Menolong Seorang Muslim, adalah Amal Shalih yang Sangat Agung*

Hasil gambar untuk padang pasir
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال،قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Barangsiapa melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Dan barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga dengan ilmu tersebut , dan tidaklah ada satu kaum yang berkumpul di rumah Allah; membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dicurahkan kepada mereka rahmat, malaikat meliputi mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.


Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.? [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

*Pelajaran yang terdapat dalam hadits:*

1- Allah memerintahkan kita untuk meringankan beban orang lain, dan Dia berjanji akan meringankan beban kita.
2- Allah memerintahkan kita untuk tidak memberikan kesulitan kepada orang lain, maka Allah tidak akan mempersulit kita pada hari kiamat.
3- Allah memerintahkan kita untuk menutup aib orang lain, maka Allah pun akan menutup aib kita (menjaga kehormatan kita).
4- Allah akan senantiasa menolong seseorang selama dia mau membantu saudaranya (orang lain).
5- Hadits yang mulia ini juga menerangkan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu, serta hubungannya yang sangat erat dengan iman dan kasih sayang terhadap kaum mukminin.
6- Peringatan untuk tidak tertipu dengan kemuliaan nasab dan kehebatan nenek moyang, karena yang meninggikan derajat seseorang adalah amal-amal shalihnya sendiri, bukan karena nasab dan keturunan.

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:*

1- Kewajiban menjaga dan menguatkan persaudaraan antara kaum mukminin dengan saling memperhatikan dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

2- Kebaikan orang yang menuntut ilmu.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Mujadilah 11]

3- Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya”, maknanya adalah, amalanlah yang dapat mengantarkan seseorang meraih ketinggian derajat di akhirat,

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang dikerjakannya.” (Al-An’am: 132)

4- Allah ta’ala menetapkan adanya balasan karena amalan, bukan karena nasab, sebagaimana firman-Nya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Al-Mukminun: 101).

===============================

www.bit.ly/daftarhadits

*Menolong Seorang Muslim, adalah Amal Shalih yang Sangat Agung*

Hasil gambar untuk padang pasir
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال،قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Barangsiapa melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Dan barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga dengan ilmu tersebut , dan tidaklah ada satu kaum yang berkumpul di rumah Allah; membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dicurahkan kepada mereka rahmat, malaikat meliputi mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.
Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.? [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

*Pelajaran yang terdapat dalam hadits:*

1- Allah memerintahkan kita untuk meringankan beban orang lain, dan Dia berjanji akan meringankan beban kita.
2- Allah memerintahkan kita untuk tidak memberikan kesulitan kepada orang lain, maka Allah tidak akan mempersulit kita pada hari kiamat.
3- Allah memerintahkan kita untuk menutup aib orang lain, maka Allah pun akan menutup aib kita (menjaga kehormatan kita).
4- Allah akan senantiasa menolong seseorang selama dia mau membantu saudaranya (orang lain).
5- Hadits yang mulia ini juga menerangkan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu, serta hubungannya yang sangat erat dengan iman dan kasih sayang terhadap kaum mukminin.
6- Peringatan untuk tidak tertipu dengan kemuliaan nasab dan kehebatan nenek moyang, karena yang meninggikan derajat seseorang adalah amal-amal shalihnya sendiri, bukan karena nasab dan keturunan.

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:*

1- Kewajiban menjaga dan menguatkan persaudaraan antara kaum mukminin dengan saling memperhatikan dan tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10]

2- Kebaikan orang yang menuntut ilmu.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[Surat Al-Mujadilah 11]

3- Barangsiapa yang lambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya”, maknanya adalah, amalanlah yang dapat mengantarkan seseorang meraih ketinggian derajat di akhirat,

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang dikerjakannya.” (Al-An’am: 132)

4- Allah ta’ala menetapkan adanya balasan karena amalan, bukan karena nasab, sebagaimana firman-Nya,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ

“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Al-Mukminun: 101).

===============================

www.bit.ly/daftarhadits

*Do'a Menjauhkan Diri dari Murka Allah*

Hasil gambar untuk doa menjauhkan dari murka allahعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنه من لم يسأل الله يغضب عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:”Barangsiapa yang tidak mau meminta kepada Allah maka Allah murka padanya”. (HR. Bukhari)

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:*

1- Berdo’a Hanya kepada Allah.
Do’a termasuk salah satu tugas agama yang sangat penting dan berkedudukan sangat mulia.
2- Do’a pun bisa dipandang sebagai pintu yang besar di antara pintu-pintu ibadat yang lain, dalam memperhambakan diri kepada Allah dan memperlihatkan ketundukkan jiwa kepada-Nya.
3- Tidak mengherankan jika ada hadits yang menyatakan:

الدعاء مخ العبادة (رواه الترمذي)



“Do’a itu, adalah otaknya ibadat.”  (HR. Turmudzi)

Do’a dipandang sebagai otaknya ibadat karena ia merupakan bentuk ibadat yang jelas sekali memperlihatkan unsur perhambaan kepada Allah dan sangat berhajatnya hamba kepada-Nya, sehingga terwujudlah posisi bahwa Allah adalah tempat meminta dan tempat memohon, sedangkan si hamba adalah makhluk yang hina dina dan selalu dalam kekurangan.
4- Dengan demikian, sangatlah tidak layak jika  seorang hamba menghadapkan do’anya  kepada selain Allah maka sudah sepantasnya Allah murka kepadanya.

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:*

1- Sangatlah tidak layak jika  seorang hamba menghadapkan do’anya  kepada selain Allah.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِين

“Dan janganlah kamu mendo’a kepada selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfa’at kepadamu dan tidak pula mendatangkan mudlarat; maka jika engkau perbuat juga, sesungguhnya engkau kalau begitu termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” (Q.S. Yunus:106)

2- Sayang sekali, sebagian manusia telah lupa tentang kedudukan do’a sebagai otak ibadat. Oleh karena itu, tidaklah mengherangkan apabila banyak di antara hamba Allah Swt. yang telah sesat, yakni menghadapkan do’a kepada selain Allah untuk memenuhi hajat mereka.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudlaratan kepada engkau, maka pastilah tiada seseorangpun yang  sanggup menghilangkannya kecuali Dia sendiri, dan jika dicurahkan-Nya sesuatu kebijakan kepada engkau, maka tidak pula seseorangpun yang dapat menghambat kurnia yang dilimpahkan-Nya itu; Maka ditimpakan-Nya kemudlaratan dan kurnia itu kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dia, Mahapengampun lagi Mahapengasih.”(Q.S.Yunus: 107).

===============================
Untuk mendapatkan broadcast One Day One Hadits silakan daftar dengan klik link dibawah. Isi nama dan alamat selanjutnya klik kirim.
www.bit.ly/daftarhadits

*Do'a Menjauhkan Diri dari Murka Allah*

Hasil gambar untuk doa menjauhkan dari murka allahعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : إنه من لم يسأل الله يغضب عليه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:”Barangsiapa yang tidak mau meminta kepada Allah maka Allah murka padanya”. (HR. Bukhari)

*Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:*

1- Berdo’a Hanya kepada Allah.
Do’a termasuk salah satu tugas agama yang sangat penting dan berkedudukan sangat mulia.
2- Do’a pun bisa dipandang sebagai pintu yang besar di antara pintu-pintu ibadat yang lain, dalam memperhambakan diri kepada Allah dan memperlihatkan ketundukkan jiwa kepada-Nya.
3- Tidak mengherankan jika ada hadits yang menyatakan:

الدعاء مخ العبادة (رواه الترمذي)

“Do’a itu, adalah otaknya ibadat.”  (HR. Turmudzi)

Do’a dipandang sebagai otaknya ibadat karena ia merupakan bentuk ibadat yang jelas sekali memperlihatkan unsur perhambaan kepada Allah dan sangat berhajatnya hamba kepada-Nya, sehingga terwujudlah posisi bahwa Allah adalah tempat meminta dan tempat memohon, sedangkan si hamba adalah makhluk yang hina dina dan selalu dalam kekurangan.
4- Dengan demikian, sangatlah tidak layak jika  seorang hamba menghadapkan do’anya  kepada selain Allah maka sudah sepantasnya Allah murka kepadanya.

*Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:*

1- Sangatlah tidak layak jika  seorang hamba menghadapkan do’anya  kepada selain Allah.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِين

“Dan janganlah kamu mendo’a kepada selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfa’at kepadamu dan tidak pula mendatangkan mudlarat; maka jika engkau perbuat juga, sesungguhnya engkau kalau begitu termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” (Q.S. Yunus:106)

2- Sayang sekali, sebagian manusia telah lupa tentang kedudukan do’a sebagai otak ibadat. Oleh karena itu, tidaklah mengherangkan apabila banyak di antara hamba Allah Swt. yang telah sesat, yakni menghadapkan do’a kepada selain Allah untuk memenuhi hajat mereka.

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ ۚ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudlaratan kepada engkau, maka pastilah tiada seseorangpun yang  sanggup menghilangkannya kecuali Dia sendiri, dan jika dicurahkan-Nya sesuatu kebijakan kepada engkau, maka tidak pula seseorangpun yang dapat menghambat kurnia yang dilimpahkan-Nya itu; Maka ditimpakan-Nya kemudlaratan dan kurnia itu kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dia, Mahapengampun lagi Mahapengasih.”(Q.S.Yunus: 107).

===============================
Untuk mendapatkan broadcast One Day One Hadits silakan daftar dengan klik link dibawah. Isi nama dan alamat selanjutnya klik kirim.
www.bit.ly/daftarhadits

Jumat, 23 November 2018

PENYAKIT DI SOSIAL MEDIA ADALAH PAMER

Hasil gambar untuk manusia yang tertipuالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

1 . PAMER WAJAH
Tidak saja orang yang jahil bahkan yang mengaku 'alim pun tak ketinggalan ikut serta pamer wajah.
2 PAMER HARTA
Terlihat di statusnya "lagi di depan rumah mewah atau mobil kesayangan "
3 PAMER KEMESRAAN
Statusnya "masyaa allah pacarku/istriku/suamiku dst "
4 PAMER PRESTASI
Contoh "alhamdulillah akhirnya di terima di ... dst"
5 PAMER KEBAIKAN
Contoh "alhamdulillah sudah bisa bantu/ngasih.... dst "
6 PAMER REZEKI
Contoh"alhamdulillah sudah laku ... dst"
7.PAMER KEHAMILAN..
Alhamdulillah positive..
8. PAMER MAKANAN..
Ini adalah Menu Makanan Hari .

Dan Masih Banyak lainnya penyakit-penyakit Pamer yg Di posting di media sosial , Bahkan Dari aktifitasnya sehari-harinya pun ikut di publikasikan.

TABI'AT manusia adalah suka pamer, Kita paling tidak bisa lepas dari sifat yang satu ini.
Jika memiliki wajah yang tampan, harta berlebih, amalan kebaikan, prestasi, baik rizki dan harta yang terlihat mentereng dan mahal, pasti ingin sekali dipamer-pamerkan. Selalu berbangga dengan harta dan perhiasan dunia, itulah jadi watak sebagian kita .
Semoga Allah memberikan taufik pada kita untuk merenungkan firman allah ta'ala berikut ini:
( QS AT-TAKATSUR: 1 - 8 )
بسم الله الرحمن الرحيم
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (1) sampai kamu masuk ke dalam kubur. (2) Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (3) dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. (4) Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, (5) niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, (6) dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (7) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (8).”

Dan tolong bagi yang suka pamer wajah, kasihanilah mereka yang memiliki tampang pas-pasaan dan seadanya, hargai perasaan mereka…
Dan bantulah Para laki-laki & perempuan untuk menundukkan pandangannya.

Bagi yang suka pamer harta, tolong hargailah mereka yang hidupnya miskin, serba kekurangan,  duit pas-pasan, makan seadanya, hargai perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer prestasi, tolong hargailah mereka yang otaknya pas-pasan, ga bisa sekolah, ngelamar kerja ditolak mulu, jadi bawahan tertindas, hargailah perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer kemesraan dan keharmonisan, plissss tolong kasihanilah mereka yang jomblo bahkan melajang seumur hidup,  hargailah mereka yang terpisah dari keluarganya, hargailah mereka yang tak kunjung hamil, keguguran berkali-kali, belum dikaruniai anak bahkan ditakdirkan tidak punya anak, hargailah perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer kebaikan, hargailah amal kebaikan dan ibadahmu sendiri, biarlah hanya engkau dan Tuhan yang tau, itu sudah lebih dari cukup supaya tak menjadi sia-sia nantinya.

Bagi yang suka pamer ekspresi, hargailah sesuatu dengan bijak, hargailah perasaan orang lain di sekitar kita

Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati dan keadaan teman-teman dan followers kita, jagalah perasaan mereka. Ketika kita pamer sesuatu bisa jadi tanpa disadari kita telah menyinggung dan menyakiti perasaan mereka. Terlebih ketika mereka punya penyakit hati seperti iri dan dengki, itu memang salah mereka, tapi kita menjadi lebih berdosa lagi kalo kita justru tambah ‘memanas-manasi’ mereka dengan sikap pamer kita.

“Jika tidak ingin dicubit, jangan mencubit. Jika ingin dihargai orang lain, maka hargailah orang lain”

Pada akhirnya semua tergantung dari niatan kita masing-masing, betul?

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita sebagai bahan renungan kita bersama

SEMOGA ALLAH SUBHANALLAHU WA TA'ALA MELINDUNGI KITA DARI JELEKNYA SIFAT PAMER,AAMIIN

🌾Manusia yang paling tertipu ... ???

Hasil gambar untuk manusia yang tertipu✍Manusia yang paling tertipu adalah orang-orang yang terperdaya oleh dunia dan kenikmatannya yang sementara.
Sehingga mereka lebih mementingkan dunia daripada akherat.
Mereka beralasan, dunia adalah kontan sedangkan akherat itu kredit, atau debu yang tersedia sekarang lebih baik daripada mutiara yang hanya dijanjikan. Dan tipu daya, atau bujuk rayu syetan yang lainnya.

Akan tetapi jika keduanya berbeda nilainya, yang tertunda lebih banyak dan lebih utama maka hal itu jelas lebih baik.
Rasululloh صلى الله عليه و سلم  bersabda:

مَا الدُّنْيَا في الآخِرَةِ إِلّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحدُكُمْ أُصْبُعَهُ في الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
"Perumpamaan dunia dengan akherat tudak lain seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut. Maka silahkan lihat, apa yang berhasil ia angkat? " (HR muslim, 2585).

Dengan demikian, memprioritaskan yang tunai dari yang tertunda dalam hal ini hal ini bentuk kebodohan yang luar biasa.

Apalagi kesenangan dunia itu hanya tipu daya yang tidak pernah mengenyangkan.

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ * سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."[Al-Hadid: 20 - 21]

Seandainya dunia dapat memuaskan manusia niscaya apa yang mereka miliki dan mereka dapatkan sudah memcukupinya.

Tapi ternyata tidak, setiap bani adam mendapatkan satu tambahan harta dia ingin mendapatkan yang lainnya lagi.

Fitrah manusia yang lurus pasti akan menerima nasehat Rasul yang diutus oleh Rabb-nya.

Mereka akan bergegas menyambut seruan Rabb-nya untuk mempersiapkan dirinya dengan amal yang baik untuk mendapatkan balasan kebaikan di hadapan Rabb-nya.

Mereka yang mau merenungi dirinya sendiri akan memahami hakekat ini.

وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
[Adh-Dhariyat: 21]

Bukankah mereka dulu hanya nuthfah lalu berubah menjadi janin lalu keluar menjadi manusia dari mulai lemah menjadi kuat dan dewasa dan kembali lemah lagi...???

Apalagi yang menjadikan kalian tidak percaya bahwa dunia ini hanya tipuan sedangkan akherat adalah kehidupan yang sebenarnya ... ???

Segeralah sadar dan perbaiki diri kalian...!!!

🍂(Dinukil secara bebas dari Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qoyyim)

🍃Abu Yusuf Masruhin Sahal, Lc

      ✏📚✒.🌴..
   
   
   

Jumat, 26 Oktober 2018

WAJIB BERDAKWAH MENGAJAK MANUSIA KEPADA KEBAIKAN DAN HARAM BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA KESESATAN

Hasil gambar untuk padang pasirOleh : Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas  حفظه الله

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2674; Abu Dawud, no. 4611; At-Tirmidzi, no. 2674; Ibnu Mâjah, no. 206; Ahmad, II/397; Ad-Dârimi, I/130-131; Abu Ya’la, no. 6489) (649) tahqiq Husain Salim Asad; Ibnu Hibbân, no. 112-at-Ta’lîqâtul Hisân; Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 109

KOSA KATA HADITS

    هُدًى : Petunjuk. Yaitu kebenaran dan kebaikan.
    ضَلَالَة : Kesesatan. Yaitu kebathilan dan kejelekan (keburukan).[1]

 SYARAH HADITS

Hadits ini –dan juga hadits-hadits yang serupa dengannya- mengandung anjuran untuk berdakwah yaitu mengajak manusia kepada petunjuk dan kebaikan, keutamaan da’i. Hadits ini juga peringatan dari perbuatan mengajak manusia kepada kesesatan dan penyimpangan, serta besarnya dosa penyeru (kepada kejelekan) tersebut dan akibatnya.

Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas, yaitu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.[2]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kedua hadits di atas jelas menunjukkan anjuran dan disukainya memberikan contoh perkara-perkara yang baik dan haramnya memberikan contoh perkara-perkara yang buruk. Orang yang memberi teladan perbuatan yang baik, maka ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan orang yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Begitu juga orang yang mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, atau mengajak kepada kesesatan maka ia mendapat dosa seperti dosa-dosa pengikutnya, baik petunjuk atau kesesatan tersebut ia yang pertama kali memulainya, atau sudah ada sebelumnya (yang melakukannya). Dan baik itu dengan mengajarkan ilmu, atau ibadah, ataupun adab dan lainnya.

Perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ) ‘yang mengerjakannya setelahnya’, maknanya bahwa perbuatan teladan tersebut (diikuti oleh orang lain) baik semasa hidupnya ataupun setelah ia meninggal dunia. Wallâhu a’lam.”[3]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang mengajak kepada petunjuk dengan dakwahnya, ia mendapat ganjaran seperti ganjaran orang yang mendapat petunjuk tersebut. Dan orang yang menyebabkan kesesatan dengan seruannya, ia akan mendapat dosa seperti dosa orang yang ia sesatkan tersebut. Karena orang yang pertama telah mencurahkan kemampuannya untuk memberikan petunjuk kepada manusia, dan orang kedua mencurahkan tenaganya untuk menyesatkan manusia. Maka masing-masing dari keduanya berkedudukan seperti orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Ini adalah kaidah syari’at. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]

وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan.” [Al-‘Ankabût/29 :13]

Ini menunjukkan bahwa orang yang mengajak manusia kepada selain sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka dialah musuh Beliau n yang sebenarnya. Karena ia memutus sampainya pahala orang yang mendapat petunjuk dengan sunnah Beliau n kepadanya. Dan ini merupakan sebesar permusuhannya.”[4]

KEUTAMAAN BERDAKWAH MENGAJAK KEPADA KEBENARAN

Dakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla merupakan amal yang sangat mulia, ketaatan yang besar dan ibadah yang tinggi kedudukannya di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Ali ‘Imrân/3:104]

Juga firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu :

فَوَاللهِ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ

Demi Allâh, bila Allâh memberi petunjuk (hidayah) lewat dirimu kepada satu orang saja, lebih baik (berharga) bagimu daripada unta-unta yang merah.[5]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa! Sungguh, semua manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih (kebajikan) serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran. [Al-‘Ashr/103:1-3]

Berdasarkan ayat-ayat al-Qur-an dan hadits ini, yang dimaksud dengan اَلْهُدَى adalah ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allâh sebagai saksi. [Al-Fath/48: 28]

Yang dimaksud dengan اَلْهُدَى (petunjuk) ialah ilmu yang bermanfaat, dan yang dimaksud dengan دِيْنُ الْحَقِّ (agama yang benar) ialah amal shalih. Allâh Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan tentang Nama-Nama Allâh Azza wa Jalla , Sifat-Sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, memerintahkan semua yang bermanfaat untuk hati, ruh dan jasad. Beliau n memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allâh Azza wa Jalla , mencintai-Nya, berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih, beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau n melarang perbuatan syirik, perilaku dan akhlak yang buruk yang berbahaya untuk hati dan badan, dunia dan akhirat.[6]

Maka setiap orang yang mengajarkan ilmu atau mengarahkan orang lain kepada jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan ilmu, maka dia disebut sebagai penyeru kepada petunjuk. Dan setiap orang yang menyeru kepada amal shalih yang berkaitan dengan hak Allâh atau hak makhluk secara umum dan khusus, maka dia juga disebut sebagai penyeru kepada petunjuk.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.[7]

Setiap orang yang memberi nasehat berkaitan dengan agama atau dunia yang bisa mengantarkannya kepada ajaran agama, maka orang itu adalah penyeru kepada petunjuk.

Setiap orang yang mendapat petunjuk dalam ilmu serta amalnya, lalu diikuti oleh orang lain, maka dia adalah penyeru kepada petunjuk.

Dan setiap orang yang membantu orang lain dalam amal kebaikan atau proyek umum yang bermanfaat, maka dia masuk dalam kategori hadits ini, seperti berdakwah, sedekah, membangun masjid, sekolah, pondok pesantren dan lainnya.

Setiap orang yang menolong orang lain dalam kebaikan dan takwa, maka dia termasuk penyeru kepada petunjuk.

Sebaliknya, setiap orang yang menolong orang lain dalam dosa dan permusuhan, maka dia termasuk penyeru kepada kesesatan.

DEFENISI DAKWAH

Dakwah (mengajak manusia ke jalan Allâh), yaitu mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla , mengimani apa yang dibawa para Rasul-Nya, dengan membenarkan apa yang mereka kabarkan kepada manusia, mentaati mereka, mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Baitullah, mengajak manusia untuk beriman kepada Allâh Azza wa Jalla , Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, beriman kepada hari akhir (dibangkitkannya manusia sesudah mati), iman kepada qadar yang baik dan buruk, dan mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allâh saja seolah-olah ia melihat-Nya.[8]

Jadi, yang dikatakan dakwah adalah mengajak manusia kepada Rukun Islam, Rukun Iman, dan melaksanakan syari’at Islam, taat kepada Allâh dan Rasul-Nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla , melarang perbuatan syirik, mengajak umat untuk ittiba’ (meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dan melarang dari berbuat bid’ah. Mengajak manusia ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan di akhirat dengan mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat g .

Dakwah di jalan Allâh merupakan sebesar-besar ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allâh dan beramal shalih.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allâh, dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh aku termasuk orang-orang Muslim (yang berserah diri).’ [Fushshilat/41:33]

RUKUN DAKWAH

Orang yang berdakwah di jalan Allâh Azza wa Jalla harus mengetahui fikih dakwah serta pokok-pokoknya agar dakwahnya berjalan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).  Maka di antara rukun dakwah, yaitu:

Rukun pertama, maudhu’ (tema) dakwah, yaitu agama Islam.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allâh ialah Islam [Ali ‘Imrân/3:19]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. [Ali ‘Imrân/3:85]

 Rukun kedua, da’i (penyeru) yaitu orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan.

Seorang da’i hendaknya mengetahui bekal seorang da’i dan senjatanya, apa tugasnya, bagaimana seharusnya akhlak seorang da’i, dan memahami itu semua merupakan hal paling penting bagi seorang da’i.

Di antara bekal yang harus dimiliki oleh seorang da’i yaitu:

    Pemahaman yang mendalam yang dibangun di atas ilmu sebelum beramal. Yaitu memahami aqidah dengan pemahaman yang benar dengan dalil-dalil dari al-Quran, hadits, serta ijma’ para Ulama ahlus sunnah. Juga memahami tujuannya dalam hidup ini dan perannya di antara manusia, senantiasa terikat dengan akhirat dan tidak tertipu dengan kehidupan dunia.
    Iman yang mendalam dan berbuah cinta kepada Allâh Azza wa Jalla , takut kepada Allâh Azza wa Jalla , berharap hanya kepada-Nya, bertawakkal, beristighatsah kepada-Nya, ikhlas semata-mata karena-Nya, dan jujur dalam setiap perkataan dan perbuatan.

Rukun ketiga, mad’u (orang yang diseru).

Seorang da’i harus mengetahui bahwa dakwah Islam ini bersifat umum kepada seluruh manusia, bahkan untuk jin dan manusia seluruhnya, di setiap waktu dan tempat sampai hari Kiamat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [Al-Anbiyâ’/21:107]

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. [Saba’/34:28]

Dan seorang da’i harus mengetahui bahwa keadaan ummat yang diseru ini bermacam-macam.

 Rukun keempat, uslub (cara) berdakwah dan menyampaikannya.

Seorang da’i harus memahami cara berdakwah dan menyampaikannya, agar ia mampu menyampaikan dakwah dengan bijaksana, sempurna dan di atas bashirah (ilmu dan keyakinan).[9]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.  [An-Nahl/16:125]

Sesungguhnya orang yang memperhatikan perjalanan para Ulama ahli hadits pada masa-masa yang telah lewat, dia akan melihat bahwa mereka mengikuti metode yang sama dalam berdakwah menuju Allâh di atas cahaya dan bashîrah (ilmu dan keyakinan).

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (Muhammad): ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allâh dengan yakin, Mahasuci Allâh, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik. [Yûsuf/12:108]

Yaitu metode yang meliputi ilmu, belajar dan mengajar. Karena sesungguhnya apabila dakwah menuju Allâh merupakan kedudukan yang paling mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terjadi kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu seseorang dapat berdakwah, dan kepada ilmu ia berdakwah. Bahkan demi sempurnanya dakwah, haruslah ilmu itu dicapai sampai batas usaha yang maksimal.

Syarat seseorang berdakwah harus berilmu dan paham tentang ilmu syar’i. Dengannya ia dapat mengajak ummat kepada agama Islam yang benar.

 Metode ilmiah ini dibangun di atas tiga dasar:

    Al-‘Ilmu, yaitu mengetahui al-haq (kebenaran).
    Dakwah menuju al-haq (mengajak manusia kepada kebenaran).
    Teguh dan Istiqamah di atas kebenaran.

Berdakwah atau mengajak manusia kepada Islam yang benar, yaitu mengajak manusia kepada cara beragama yang benar, baik tentang ‘aqidah, manhaj, ibadah, akhlak, dan yang lainnya menurut pemahaman as-salafush shalih. Dakwah ini harus memenuhi tiga syarat:

Pertama:  Akidahnya Benar (سَلاَمَةُ الْمُعْتَقَدِ)

Maksudnya seseorang yang berdakwah harus meyakini kebenaran akidah Salaf tentang tauhid Rubûbiyyah, Ulûhiyyah, Asma’ dan Shifat, serta semua yang berkaitan dengan masalah akidah dan iman.

Kedua: Manhajnya Benar (سَلاَمَةُ الْمَنْهَجِ)

Yaitu memahami al-Qur-an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman as-Salafush Shalih. Mengikuti prinsip dan kaidah yang telah ditetapkan oleh para Ulama Salaf.

Ketiga: Beramal dengan Benar (سَلاَمَةُ الْعَمَلِ)

Seorang yang berdakwah, mengajak umat kepada Islam yang benar, maka ia harus beramal dengan benar yaitu beramal semata-mata ikhlas karena Allâh dan ittiba’ (mengikuti) contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak mengadakan bid’ah, baik i’tiqad (keyakinan), perbuatan atau perkataan.

Dalam hadits di atas juga disebutkan tentang orang yang mengajak manusia kepada kesesatan, dia akan mendapat dosa seperti dosa-dosa orang yang ia sesatkan. Mengajak manusia kepada kesesatan dosanya besar sekali. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa mereka, yaitu para da’i, ustadz, kyai, tuan guru, habib atau ulama yang mengajak manusia kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan maksiat, maka mereka adalah penyeru manusia ke neraka Jahannam.

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu anhu, ia berkata:

كَانَ النَّـاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْـخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِـيْ. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ كُنَّا فِـيْ جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللهُ بِهٰذَا الْـخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ هـٰذَا الْـخَيْرِ شَرٌّ؟ قَالَ: نَعَمْ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيْهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِـيْ وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِـيْ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. فَقُلْتُ: هَلْ بَعْدَ ذٰلِكَ الْـخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا. فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، قَالَ: نَعَمْ ، قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ ، فَمَا تَـرَى إِنْ أَدْرَكَنِـيْ ذٰلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ. فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذٰلِكَ.

Orang-orang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, namun aku justru bertanya kepada Beliau tentang keburukan karena aku takut terjerumus kepadanya. Maka aku berkata, ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya kami dahulu berada di masa Jahiliyyah dan masa penuh kejahatan (kejelekan), lalu Allâh mendatangkan kepada kami kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan lagi?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?

Beliau menjawab, ‘Ya, tetapi kebaikan itu terselimuti kabut.’

Aku bertanya, ‘Bagaimana wujud kabut itu?’ Beliau menjawab, ‘Adanya sekelompok orang yang menjalani sunnah yang bukan sunnahku, mengambil petunjuk juga bukan dari petunjukku. Kalian mengenali mereka, tetapi kalian mengingkari mereka.’

Aku bertanya lagi, ‘Apakah setelah kebaikan (berkabut) itu akan datang lagi keburukan lain?’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, adanya para da’i yang mengajak ke pintu-pintu Neraka Jahannam. Barangsiapa yang menjawab panggilan mereka, pasti mereka akan mencampakkannya ke Neraka Jahannam tersebut.’

Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Gambarkanlah ciri-ciri mereka kepada kami.’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Baiklah. Mereka adalah orang-orang yang kulitnya sama dengan kita (berasal dari negeri kita), berbicara juga dengan bahasa kita.’

Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh! Apa pendapatmu jika kami mendapati zaman tersebut?’

Beliau menjawab, ‘Hendaklah engkau bersatu dengan jama’ah dan imamnya kaum Muslimin.’ Aku berkata, ‘Jika mereka sudah tidak memiliki jama’ah dan imam lagi?’

Beliau n menjawab, ‘Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus mengigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.’[10]

Yang paling Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatirkan atas ummat Islam yaitu da’i-da’i yang mengajak kepada kesesatan, yang mengajak kepada syirik, bid’ah, dan maksiat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّـمَـا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِيْ الْأَئِمَّةَ الْـمُضِلِّيْنَ

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.[11]

Pada hadits tersebut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan atas ummat dari bahaya pemimpin dan ulama yang sesat dan menyesatkan, karena manusia akan mengikuti mereka dalam kesesatan mereka. Dan orang yang mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan, maka ia akan menanggung dosa orang-orang yang ia sesatkan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu. [An-Nahl/16 :25]

FAWA-ID

    Wajib berdakwah menyeru manusia kepada kebenaran (kebaikan) dan petunjuk.
    Wajib berdakwah menyeru manusia dengan dasar ilmu dan keyakinan.
    Dakwah wajib dilakukan dengan ikhlas karena Allâh dan ittiba’ kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
    Dakwah adalah mengajak manusia kepada agama Islam yang benar agar ummat paham tentang Iman, prinsip-prinsip akidah Islam dan ibadah lainnya.
    Wajib mengajak manusia ke jalan Allâh Azza wa Jalla , kepada agam Islam yang benar berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman assalafush shalih.
    Seorang Muslim harus benar-benar memperhatikan akhir dari segala sesuatu (yang dijalaninya) dan nilai-nilai amalnya, sehingga dia akan selalu berusaha berbuat kebaikan agar menjadi teladan yang baik.
    Orang yang mengajak kepada kebaikan dan petunjuk akan memperoleh pahala yang berlipat ganda.
    Orang yang paling baik perkataannya adalah orang yang berdakwah di jalan Allâh dan dia beramal shalih dengan ikhlas.
    Haramnya berdakwah atau mengajak manusia kepada kesesatan dan kebathilan.
    Orang yang menjadi penyebab dilakukannya suatu perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan tersebut diberi nilai yang sama, baik dalam hal siksaan maupun pahala.
    Hendaklah setiap Muslim menghindari seruan palsu dan teman yang buruk, sebab dia ikut bertanggung jawab atas apa yang dikerjakannya.
    Orang yang mengajak kepada kesesatan, kesyirikan, bid’ah, dan kebathilan akan memperoleh siksaan yang berlipat ganda dan akan meikul dosa-dosa orang yang ia sesatkan.
    Peringatan dari para penguasa, ulama, ahli ibadah dan da’i-da’i yang sesat.
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengkhawatirkan adanya da’i-da’i yang sesat yang mengajak kepada kesyirikan, bid’ah, dan maksiat.
    Setiap Muslim wajib berusaha menjadi pelopor dalam kebaikan, menjadi pintu-pintu kebaikan dan menutup jalan-jalan keburukan.

MARAAJI’

    Kutubus sittah dan kitab hadits lainnya.
    Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi.
    Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
    Miftâh Dâris Sa’âdah, Ibnul Qayyim.
    Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
    Bahjatu Qulûbil Abrâr fii Syarh Jawâmi’il Akhbâr, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di
    Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhish Shâlihîn, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali.
    Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani
    Dan lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Bahjatun Nâzhirîn, I/262

[2]     Shahih: HR. Ahmad, IV/357, 358-359, 360, 361, 362; Muslim, no. 1017 [15]; an-Nasa-I, V/76-77; ad-Dârimi, I/130, 131; Ibnu Mâjah, no. 203; Ibnu Hibbân, no. 3297-at-Ta’lîqâtul Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibbân; Ath-Thahawi dalam Musykilul Âtsâr, no. 243; Ath-Thayâlisi, no. 705 dan al-Baihaqi, IV/175-176 dari Sahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu

[3]  Shahîh Muslim bi Syarh an-Nawawi, XVI/226-227

[4]  Miftâh Dâris Sa’âdah, I/250-251, tahqiq Syaikh Ali Hasan.

[5]      Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 2942, 3701 dan Muslim, no. 2406 dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu

[6]      Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân fii Tafsîr Kalâmil Mannân oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di , hlm. 795, cet. Darus Sunnah.

[7]     Shahih: HR. Muslim, no. 1893 dari Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallahu anhu

[8]     Majmû’ Fatâwâ, XV/157-158 karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[9]     Muqawwimât ad-Dâ’iyatin Nâjih fii Dhau-il Kitâb was Sunnah, karya Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani, hlm. 82-92, dengan ringkas.

[10]    Shahih: HR. Al-Bukhâri, no. 3606, 7084 dan Muslim, no. 1847, dan ini lafazh dalam riwayat Imam Muslim

[11]    Shahih: HR. Ahmad, V/278; At-Tirmidzi, no. 2229 dan ad-Dârimi, I/70 dan II/311, dari Sahabat Tsaubân z . Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah, IV/109-111, no. 1582


Read more https://almanhaj.or.id/6354-wajib-berdakwah-mengajak-manusia-kepada-kebaikan-danharam-berdakwah-mengajak-kepada-kesesatan.html