Flicker Images

Senin, 12 Agustus 2019

Mengobarkan Semangat Untuk Mengumpulkan Kitab Para Ulama (2)

Hasil gambar untuk pentingnya membaca kitab ulamaMengumpulkan Kitab: Bahan Bakar untuk Mengobarkan Api Semangat Menuntut Ilmu Syar’i

Sudah selayaknya bagi kita agar memiliki perhatian terhadap kitab-kitab para ulama terdahulu. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Sudah selayaknya bagi penuntut ilmu untuk memperhatikan hal ini, yaitu mengumpulkan kitab. Akan tetapi, hendaklah memulainya dari kitab yang paling penting kemudian yang penting berikutnya. Jika tidak memiliki banyak uang, bukanlah suatu hal yang bijaksana jika membeli kitab yang sangat banyak dengan cara berhutang. Karena hal ini termasuk membelanjakan uang di jalan yang kurang baik. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memerintahkan kepada seseorang yang hendak menikah namun tidak punya uang agar dia berhutang. Bersemangatlah untuk memiliki kitab-kitab pokok yang paling penting, bukan kitab yang ditulis oleh orang pada zaman sekarang. Karena sebagian penulis pada zaman sekarang ini tidaklah memiliki ilmu yang mendalam. Oleh karena itu, jika Engkau membaca kitab, Engkau akan menemukan pembahasan yang mengambang. Terkadang penulis hanya menukil saja dari kitab yang lain. Terkadang pula menjelaskannya dengan ungkapan yang panjang lebar, namun kurang ada manfaatnya. Oleh karena itu, perhatikanlah kitab-kitab yang penting. Bersemangatlah untuk mencari kitab-kitab pokok yang ditulis para salaf (ulama terdahulu). Karena sesungguhnya ada lebih banyak kebaikan dan berkah daripada kitab yang ditulis orang-orang khalaf (zaman sekarang ini, pen.).” [1]

Mengumpulkan sebanyak mungkin kitab syar’i yang bermanfaat dan bersemangat untuk mengumpulkannya merupakan sarana yang dapat membantu kita untuk membakar dan mengobarkan api semangat menuntut ilmu syar’i. Hal ini disebabkan:

    Jika seseorang mengumpulkan kitab dan menyusunnya dalam perpustakaan rumah atau ruangan khusus di rumahnya, maka ketika dia memandang deretan buku-buku tersebut yang telah dicetak dengan cetakan yang indah dan menarik, pastilah tergerak motivasinya untuk membaca sebagian buku tersebut walaupun sejenak saja. Karena ketika dia memandang kitab-kitab itu, dia akan teringat dengan kesungguhan yang dicurahkan oleh para ulama salaf dalam menulis, menyusun, dan mengumpulkan kitab-kitab tersebut. Dia juga akan teringat dengan berbagai kesulitan yang dihadapi dalam menulisnya. Saat itulah dia akan membandingkan dengan keadaan dirinya sendiri, “Wahai jiwaku, apa yang telah Engkau perbuat? Apa yang telah Engkau persembahkan?”
    Ketika dia melihat kitab-kitab yang banyak di perpustakaannya dan belum terbaca, dia akan bertanya pada dirinya,“Sampai kapan aku mengumpulkan kitab dan tidak membacanya?” Kemudian mencela dirinya,“Wahai jiwaku, bukanlah suatu aib dalam mengumpulkan banyak kitab. Bahkan hal itu sesuatu yang sangat terpuji dan memiliki banyak keutamaan. Namun, yang menjadi aib adalah ketika Engkau meninggalkan untuk membacanya. Maka sadarlah dari kelalaianmu dan bangunlah dari tidurmu!”
    Terkadang seseorang mengalami kesusahan, kegelisahan, dan kesedihan sehingga mendorong dirinya untuk melakukan apa saja agar bisa melupakannya. Sehingga ketika dia melihat kitab yang tersusun di perpustakaannya, dia akan mengambil kitab yang dapat diraih oleh jangkauan tangannya untuk dibaca. Terkadang, tidaklah dia meninggalkan kitab itu sampai menyelesaikannya.
    Menginfakkan harta untuk membeli dan mengumpulkan kitab adalah amal kebaikan. Sehingga orang tersebut diberi pahala di dunia dan dia akan memperoleh manfaat setelah dia meninggal dan berada di dalam kuburnya. Ketika dia mewasiatkan kitab-kitab itu bagi orang yang mau mengambil manfaat darinya atau mewakafkannya kepada lembaga-lembaga keislaman, masjid, atau perpustakaan umum, maka tentu ini adalah kebaikan yang sangat besar. [2]

Semangat para Ulama dalam Mengumpulkan Kitab

Demikianlah, para ulama salaf sangat menyadari pentingnya mengumpulkan kitab. Kita temukan pada diri mereka semangat yang tinggi untuk membeli kitab.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata dalam biografi Ibnul Qayyim rahimahullah, “Beliau (Ibnul Qayyim) sangat gemar mengumpulkan kitab sehingga beliau  memiliki kitab yang tidak terhingga banyaknya. Sampai-sampai anaknya menjual kitab-kitab itu setelah beliau meninggal dalam kurun waktu yang lama, kecuali kitab-kitab yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri.” [3]

Imam Al-Mundziri rahimahullah berkata, “Al-Hafidz As-Silafi rahimahullahu adalah orang yang sangat gemar mengumpulkan kitab. Setiap kali memiliki uang, beliau akan menggunakannya untuk membeli kitab. Beliau memiliki koleksi kitab yang tidak ada habis-habisnya apabila dipandang.” [4]

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam biografi Al-Qadhi Abdurrahim bin Ali Al-Lukhai rahimahullah,”Telah sampai berita kepada kami bahwa beliau memiliki kitab sampai 100.000 jilid. Beliau mengumpulkannya dari seluruh pelosok negeri.” [5]

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata dalam biografi Muhammad bin Abdullah As-Sulami Al-Marsi rahimahullah,”Menulis, membaca, dan mengumpulkan banyak kitab yang berharga. Harta beliau digunakan untuk membeli kitab.” [6]

Inilah beberapa contoh keteladanan para ulama salaf kita dalam mengumpulkan kitab atau buku-buku agama yang bermanfaat. Semoga dapat memberikan teladan bagi kita tentang bagaimanakah semangat para ulama salaf dalam membelanjakan harta demi menuntut ilmu syar’i. Marilah kita berlomba-lomba mencari kebahagiaan menuntut ilmu syar’i dengan menelaah kitab para ulama dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab. [Selesai]


Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.Or.Id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/24240-mengobarkan-semangat-untuk-mengumpulkan-kitab-para-ulama-2.html

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (1)

Hasil gambar untuk pentingnya membaca kitab ulamaSebagian orang ada yang berusaha menjatuhkan kehormatan ulama dengan mencela dan merendahkan mereka, bahkan ada pula golongan yang menyamalkan diri mereka dengan ulama, sehingga dengan ringan hati mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang “megah” dalam urusan agama untuk membantah fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah dan merendahkannya, padahal pernyataan-pernyataan tersebut lebih rapuh dari sarang laba-laba. Sampaikan kepada mereka “ulama itu kedudukan ilmiyah yang sangat tinggi, tidak mudah menjadi ulama. Sungguh jauh berbeda antara Anda dengan mereka, bercerminlah”.

Di sisi lain, sebagian dari penuntut Ilmu yang telah mendapatkan hidayah sunnah dan memiliki semangat mempelajari berbagai kitab ulama pun ada yang merasakan hal seperti ini,

“Tahunan sudah saya mengikuti kajian dari daurah ke daurah dan banyak sudah kitab-kitab ulama yang telah saya baca, namun saya merasa seolah-olah ‘tidak punya apa-apa’, tidak menguasai kaidah-kaidah dasar yang kokoh, tidak bisa menganalisa sebuah masalah ilmiyah dengan baik, dan tidak mampu memahami apalagi membahas masalah-masalah yang pelik!”. Suatu pertanyaan yang layak dijadikan renungan: “Sudah benarkah cara belajarnya?
Menuntut ilmu syar’i Adalah Jalan yang Panjang

Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh hafizhahullah mengatakan, “Menuntut Ilmu syar’i adalah jalan yang panjang, tidaklah terwujud dengan baik kecuali dengan meninggalkan perkara yang sia-sia lagi melalaikan, serta meninggalkan mengikuti kesenangan syahwat belaka. Di samping itu, juga harus melakukannya dengan bersungguh-sunguh ”. Mengapa demikian?Karena Allah Yang Maha Mengetahui tentang wahyu-Nya telah mensifati wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ucapan yang berat,

إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat” (QAl-Muzzammil: 5).

Hal yang dimaksud dengan Ucapan yang berat di sini adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Oleh sebab itu, ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang suatu masalah, beliau tidak menjawabnya, lalu ada yang berkata, “Ini masalah yang enteng atau masalah yang sepele”, sang Imam pun menjawab, “Jangan Anda katakan seperti itu! Karena (sesungguhnya) tidak ada satupun dari ilmu syar’i ini, -baik permasalahan kecil maupun yang besar- layak dikatakan sepele atau enteng, karena Allah Jalla wa ‘alaa mensifatinya dengan (perkataan yang) berat {إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا }”.

Ucapan Imam Malik rahimahullah adalah ucapan yang mendalam dan sarat makna.

Hal ini adalah tingkatan pertama dari tangga menuntut ilmu bahwa seorang penuntut ilmu tidak boleh menyepelekan dan menggampangkan ilmu, walaupun seandainya masalah yang dibahas benar-benar perkara yang mudah dipahami. Bukan berarti tidak ada sebagian dari ilmu syar’i yang lebih mudah dipahami daripada sebagian yang lainnya.Namun maksudnya, walaupun suatu materi ilmu itu mudah, tetap tidak layak untuk disepelekan.Mengapa?

Seorang penutut ilmu syar’i, tidaklah dikatakan menguasai ilmu syar’i  dengan baik dan tidaklah dikatakan memiliki ilmu yang mapan kecuali dengan memberikan perhatian yang besar terhadap semua masalah ilmiyah, baik yang kecil maupun yang besar, baik terkait dengan aktifitas memahami dan memperolehnya, menghafal maupun mengulang-ulangnya, mendalamkan dan mengokohkannya dalam hati serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu adalah perkara yang berat.Ada sebuah kata Mutiara yang terbukti dalam kenyataan dan menarik untuk kita simak

العلم إنْ أعطيته كلّك أعطاك بعضه، وإنْ أعطيته بعضك لم تدرك منه شيئا

Ciri khas ilmu syar’i itu, seandainya Anda telah memberikan pengorbanan semua yang Anda miliki, maka ilmu tersebut hanyalah akan memberikan kepadamu sebagiannya saja, namun jika Anda memberikan pengorbanan sebagian saja untuk memperolehnya, maka Anda tidak akan mendapatkan apa-apa darinya” .
Seorang Penuntut Ilmu Haruslah Memiliki Metodologi dalam Belajar

Ya, metodologi (manhaj) yang benar dalam menuntut ilmu syar’i dan membaca kitab-kitab ulama haruslah dimiliki oleh setiap penuntut ilmu syar’i karena jika ia sampai tidak memilikinya, maka bisa luntur semangatnya, bosan dan bahkan ia bisa berhenti di tengah jalan.

Telah berlalu sekian tahun lamanya ia belajar ilmu-ilmu syari’at ini, namun ia dapati dirinya seolah-olah masih seperti yang dulu, awam atau berstatus ”banyak baca kitab” saja, walaupun hanya pendahuluan, daftar isi, dan beberapa bab secara sekilas.

Akhirnya, pengetahuannya setengah-setengah, tidak menguasai kaidah-kaidah dasarnya, tidak paham inti masalahnya, lebih tidak paham lagi masalah perinciannya dan perkara-perkara yang sulit karena yang ia dapatkan selama ini tidak lebih dari sekedar wawasan dan bukan ilmu yang kokoh dan mapan.
Tiga Kunci Mendasar Sukses Menuntut Ilmu Syar’i

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dari dulu sampai sekarang memiliki tiga kiat sukses mendasar dalam menguasai ilmu syar’i, sehingga mereka berhasil menjadi para ulama, Aimmatul Huda (para Imam yang mengajarkan petunjuk Allah), dengan taufik dari Allah Ta’ala.

Ketiga prinsip ini termasuk penyebab terbesar didapatkannya taufik dan pertolongan Allah, sehingga mereka mendapatkan anugerah menjadi para ulama rabbaniyin.
1. Ikhlas

Seorang penuntut ilmu syar’i  haruslah ikhlas dalam menuntut ilmu, mencari keridhaan dan kecintaan Allah, sehingga Dia berkenan memasukkannya ke dalam surga-Nya.Menuntut ilmu syar’iadalah ibadah yang agung, tidaklah akan diterima dan diberkahi oleh Allah kecuali dengan keikhlasan, bukan bertujuan untuk mendapatkan perhiasan dunia berupa harta, tahta, wanita, pujian maupun yang lainnya.

Seorang penuntut ilmu syar’i tidaklah belajar dengan niat mengincar profesi guru, penceramah, maupun ustadz terkenal, namun ia belajar agama Islam ini semata-mata dalam rangka beribadah kepada Rabbnya semata, agar bisa beribadah dan beragama dengan benar (baca: berilmu dan beramal), dan ingin agar orang lain bisa beribadah dan beragama dengan benar pula (baca: berdakwah). Bukan profesi, gaji, dan popularitas yang menjadi tujuannya, namun ilmu, amal dan dakwah yang ia inginkan, inilah profil penuntut ilmu yang ikhlas, mencari keridhaan dan kecintaan Allah, serta mencari surga-Nya.

Hal inilah yang dimaksud oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam perkataannya,

العـلم لا يـعـدله شـيء لمن صحّـت نيـتـه ،قيل: وكيف تصح نيته؟  قال: ينـوي أن يرفع الجهل عن نفسه وعن غيره

“Ilmu (syari’at) itu tidak ada sesuatu yang bisa menyaingi keutamaannya, bagi orang yang benar niatnya. Ada yang bertanya, “Bagaimana niatnya bisa benar?” Beliau menjawab, “Hendaklah ia berniat menghilangkan kebodohan (tentang agama Islam ini) dari dirinya dan dari orang lain”.

Maksud beliau niat yang benar dalam menuntut ilmu syar’i adalah berilmu agar bisa beramal dan beribadah dengan benar serta untuk berdakwah kepada orang lain agar mereka pun bisa beribadah dengan benar. Intinya adalah berilmu, beramal, dan berdakwah.
2. Cara menuntut Ilmu Syar’i yang Sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam

Niat yang benar (baca : Ikhlas) semata tidaklah cukup, haruslah ditambah dengan cara yang benar dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, barulah ketika terkumpul kedua perkara ini, maka aktifitas ibadah diterima oleh Allah. Di antara cara yang paling penting dalam menuntut ilmu syar’i adalah Ar-Rifqu (lembut, tidak terburu-buru, tapi bertahap).

Mengapa demikian?Karena Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam menerangkan kepada kita kabar yang umum,

إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه، ولا ينزع من شيء إلا شانه

“Sesungguhnya tidaklah kelembutan ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (hilang) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek” (HR. Muslim no. 2594).

Maksud dari “sesuatu” disini umum, termasuk juga didalamnya adalah aktifitas menuntut ilmu syar’i.

Demikian pula dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله

“Sesungguhnya Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dalam seluruh perkara” (HR. Bukhari dan Muslim). sabda beliau (في الأمر كله) mencakup seluruh perkara, termasuk didalamnya menuntut ilmu syar’i.
3. Ar-Rifqu  dalam menuntut Ilmu Syar’i

Bagaimana bentuknya? Ulama menjelaskan tentang Ar-Rifqu, maknanya adalah berhati-hati, teliti, tidak terburu-buru, dan bertahap dalam setiap urusan, lawannya adalah mengambil sesuatu (langkah/keputusan/aktifitas) dengan kasar dan terburu-buru.

Dalam menuntut ilmu syar’i, bentuk Ar-Rifqu adalah menuntut ilmu syar’i secara bertahap, tidak sekaligus dan tidak langsung belajar secara luas, mendetail, dan mendalam, namun ia mempelajari dasar-dasar berbagai disiplin ilmu yang ringkas terlebih dahulu lalu meningkat ke ilmu lanjutan yang menengah, dan selanjutnya meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi, demikian seterusnya sesuai dengan apa yang dimudahkan oleh Allah baginya.Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh seorang imam Tabi’in yang terkenal, Syihab Az-Zuhri,

من رام العلم جملة ذهب عنه جملة وإنّما العلم يطلب على مرّ الأيام واللّيالي

“Barangsiapa yang mencari ilmu sekaligus (semuanya atau mayoritasnya), maka akan lenyaplah ilmu tersebut sekaligus pula. Sesungguhnya ilmu syar’i hanya bisa dipelajari dengan baik jika menghabiskan waktu siang dan malam (dalam waktu yang panjang) ” .

Menguasai ilmu syar’i dengan baik, mendalam, luas, detail, dan kokoh itu membutuhkan waktu yang panjang, harus bertahap selama bertahun-tahun, tidak bisa hanya dalam waktu yang singkat. Barangsiapa yang coba-coba mempelajarinya langsung mendalam, luas, dan detail dalam waktu singkat, biasanya ia tidak akan bisa menguasainya dengan baik sehingga seolah-olah ia seperti tidak pernah belajar sama sekali atau bahkan benar-benar tidak tahu apa-apa tentang ilmu tersebut.

Adapun tentang bagaimana contoh-contoh Ar-Rifqu dalam menuntut ilmu syar’i, insya allah akan berlanjut pada artikelCara Mempelajari Kitab-Kitab Ulama (bag.2).

 

(Diolah dari transkrip muhadharah Syaikh ShalIh Alu Asy Syaikh hafizhahullah di web resmi beliau: Manhajiyyah fi Thalabil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/31 & Al-Manhajiyyah fi qiraa`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/28)


Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.Or.Id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/24509-beginilah-cara-mempelajari-kitab-para-ulama-1.html

Jumat, 26 Juli 2019

*CARA SUJUD YG BENAR SESUAI DENGAN SUNNAH*

Hasil gambar untuk sujudSecara umum, tata cara sujud yang benar telah disebutkan dalam hadis berikut:

Nabi ﷺ bersabda,
_“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: *Dahi dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki.”*_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Berdasarkan hadits, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
a. Dahi dan mencakup hidung
b. Dua telapak tangan
c. Dua lutut
d. Dua ujung-ujung kaki.

Adapun bentuk sujud yang sempurna secara rinci dijelaskan sebagai berikut:
*1. Menempelkan Dahi dan Hidung di Lantai*
_“Nabi ﷺ *menempelkan* dahi dan hidungnya ke lantai…”._
_(HR. Abu Daud, Turmudzi)_

Nabi ﷺ bersabda,
_*“Tidak ada shalat* bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.”_
_(HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani)_

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya *wajib.*

*2. Meletakkan Kedua Tangan di Lantai dan Sejajar dengan Pundak atau Telinga*
_“Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) *sejajar dengan pundaknya.”*_
_(HR. Abu Daud, Turmudzi)_

_Dan terkadang “Beliau  meletakkan tangannya *sejajar dengan telinga.”*_
_(HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih)_

*3. Merapatkan Jari-jari Tangan dan Menghadapkannya ke Arah Kiblat*
_“Nabi ﷺ *merapatkan jari-jari* tangan ketika sujud.”_
_(HR. Ibn Khuzaimah dan Al Baihaqi)_

_“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih)_

Ibn Umar رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ mengatakan,
_“Nabi ﷺ suka menghadapkan anggota tubuhnya ke arah kiblat ketika shalat. *Sampai beliau menghadapkan jari jempolnya ke arah kiblat.”*_
_(HR. Ibn Sa’d)_

*4. Mengangkat Kedua Lengan dan Membentangkan Keduanya Sehingga Jauh dari Lambung.*
_“Beliau tidak meletakkan lengannya di lantai.”_
_(HR. Al Bukhari dan Abu Daud)_

_“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga *jauh dari lambungnya,* sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.”_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

_“Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau.”_
_(HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)_

Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh dalam merenggangkan kedua lengannya ketika sujud, sampai ada sebagian sahabat yang mengatakan, _“Sungguh kami merasa kasihan dengan Nabi ﷺ karena beliau sangat keras ketika membentangkan kedua lengannya pada saat sujud.”_
_(HR. Abu Daud dan Ibn Majah, hasan)_

Catatan:
Membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika *_tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya._* Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah, maka tidak boleh membentangkan tangan, *_namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai._* Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang dilarang.

*5. Menempelkan Kedua Lutut di Lantai.*
Nabi ﷺ bersabda,
_“Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: salah satunya *bertumpu pada kedua lutut.”*_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Catatan:
Kedua lutut dirapatkan ataukah direnggangkan?

Tidak terdapat keterangan tentang masalah ini. Oleh karena itu, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang shalat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut, maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya, jika dia merasa nyaman dengan kondisi dirapatkan kedua lututnya, maka sebaiknya dirapatkan.

Syaikh Ibn Al Utsaimin mengatakan,
_*“Hukum asal (gerakan shalat) adalah meletakkan anggota badan sesuai dengan kondisi asli tubuh sampai ada dalil yang menyelisihinya.”*_
(Asy Syarhul Mumthi’, 1:574)

*6. Bersikap I’tidal Ketika Sujud*
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud
_“i’tidal ketika sujud” adalah *merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha*, masing-masing kurang lebih 90 derajat. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90 derajat._
_(Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)_

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi ﷺ  bersabda,
_“Bersikaplah I’tidal ketika sujud.”_
_(HR. Al Bukhari dan Muslim)_

Dari Abu Humaid رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ beliau menceritakan tata cara shalatnya Nabi ﷺ:
_"…Ketika beliau sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, *tanpa sedikit pun menyentuhkan paha dengan perut beliau."*_
_(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)_

As Syaukani mengatakan: _Hadis ini dalil dianjurkannya *meregangkan kedua paha ketika sujud dan mengangkat perut sehingga tidak menyentuh paha.* Dan tidak ada perselisihan ulama tentang anjuran ini._
_(Nailul Authar, 2:286)_

*7. Meletakkan Ujung-ujung Kaki dan Ditekuk Sehingga Ujung-ujungnya Menghadap Kiblat*
_“Nabi ﷺ meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, dinyatakan shahih oleh Al Hakim)_

_“Beliau menegakkan kedua telapak kakinya.”_
_(HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih) Dan “Beliau memerintahkan (umatnya) untuk melakukannya.”_
_(HR. At Turmudzi, Al Hakim)_

_“Beliau *menghadapkan* punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.”_
_(HR. Al Bukhari dan Abu Daud)_

*8. Merapatkan Tumit*
_“Beliau *merapatkan* kedua tumitnya (ketika sujud).”_
_(HR. At-Thahawi dan Ibn Khuzaimah)_

Melaksanakan Gerakan Sujud Sebagaimana di Atas dengan Sungguh-sungguh
Karena demikianlah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ. Agar shalat kita bisa sempurna maka sunnah yang mulia ini harus kita jaga.

Semoga bermanfaat.
إِنْ شَاءَ اللّٰهُ

#UstadzAmmiNurBaits
@konsultasisyariah

Senin, 24 Desember 2018

SEBAB DAN HIKMAH MUSIBAH

Hasil gambar untuk anak krakatauOleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Faktor utama penyebab musibah yang menimpa manusia adalah dosa dan kemaksiatan mereka. Ini merupakan perkara yang pasti dalam syari’at yang suci ini. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. [an-Nisâ`/4:79].

Imam Qatâdah rahimahullah mengatakan, “Sebagai hukuman bagimu wahai anak Adam, disebabkan karena dosamu”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir].

Hal ini juga ditegaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam ayat yang lain:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allâh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [asy-Syûra/42:30].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah tentang tafsir ayat ini, beliau mengatakan, “Musibah-musibah apa saja yang menimpa kamu wahai Adam, itu hanyalah karena keburukan-keburukan yang telah kamu lakukan. ‘Dan Allâh memaafkan sebagian besar’, dari kesalahan-kesalahan, sehingga Dia tidak membalas kesalahan-kesalahan kamu, bahkan Dia memaafkannya”.

Di tempat lain Allâh Azza wa Jalla berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]

Saat menjelaskan ayat, yang artinya,“disebabkan karena perbuatan tangan manusia”, Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa kekurangan pada tanaman dan buah-buahan disebabkan oleh kemaksiatan-kemaksiatan. Abul-‘Aliyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa bermaksiat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi, maka ia telah berbuat kerusakan di muka bumi. Karena kemakmuran bumi dan langit adalah dengan ketaatan”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat ar-Rûm/30 ayat 41].

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al-A’râf/7:96].

Dalam ayat ini Allâh memberitakan bahwa penyebab siksa itu adalah perbuatan manusia yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

HIKMAH MUSIBAH

Allâh Azza wa Jalla adalah al-Hakîm, Maha Bijaksana. Segala perbuatan-Nya pasti mengandung hikmah, baik kita ketahui secara jelas maupun samar-samar. Seperti halnya dalam masalah musibah pada manusia, Allâh Azza wa Jalla memberitakan di antara himah-hikmah perbuatan-Nya itu. Inilah di antaranya :

Pertama : Sebagai Siksa Terhadap Sebagian Manusia Dan Keutamaan Bagi Sebagian Yang Lain.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah tha’un (suatu jenis penyakit menular yang mematikan). Beliau memberitahukan kepadaku, bahwa itu merupakan siksaan yang Allâh kirimkan kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan Allâh menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak ada seorangpun yang tertimpa penyakit tha’un, lalu ia tinggal di kotanya dengan sabar, mengharapkan pahala Allâh serta ia mengetahui bahwa ia tidak tertimpa sesuatu kecuali apa yang telah Allâh tulis (takdirkan) baginya, kecuali orang itu akan mendapatkan semisal pahala syahid”. [HR al-Bukhâri, no. 3474].

Kedua : Sebagai Balasan Kesalahan (Kemaksiatan) Manusia.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَصَائِبُ وَالْأَمْرَاضُ وَالْأَحْزَانُ فِي الدُّنْيَا جَزَاءٌ

Musibah-musibah, penyakit-penyakit, kesusahan-kesusahan di dunia merupakan balasan.[1]

Dalam hadits yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يُصِيْبُ رَجُلاً خَدْشُ عُوْدٍ وَلاَ عَثْرَةُ قَدَمٍ وَلاَ اِخْتِلاَجُ عِرْقٍ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَمَا يَعْفُو اللهُ أَكْثَرُ

Tidaklah sepotong kayu melukai seseorang, tergelincirnya telapak kaki, dan terkilirnya urat, kecuali dengan sebab dosa. Dan apa yang Allâh maafkan lebih banyak.[2]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan para sahabatnya dari beberapa kemaksiatan yang menyebabkan bencana. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

Hai orang-orang Muhajirin, lima perkara jika kamu ditimpa lima perkara ini, aku mohon perlindungan kepada Allâh agar kamu tidak mendapatinya: (1) Tidaklah perbuatan keji (seperti bakhil, zina, minum khamr, judi, merampok dan lainnya) dilakukan pada suatu masyarakat dengan terang-terangan, kecuali akan tersebar wabah penyakit thâ’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak ada pada orang-orang dahulu yang telah lewat. (2) Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan susah, dan kezhaliman pemerintah. (3) Tidaklah mereka menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Seandainya bukan karena hewan-hewan, manusia tidak akan diberi hujan. (4) Orang-orang tidak membatalkan perjanjian Allâh dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka (orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian yang ada di tangan mereka. (5) Dan selama pemimpin-pemimpin (negara, masyarakat) tidak menghukumi dengan kitab Allah, dan memilih-milih sebagian apa yang Allâh turunkan, kecuali Allah menjadikan permusuhan di antara mereka.[3]

Ketiga : Sebagai Penebus Dosa.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Dari Abu Sa’id al-Khudri dan dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit (yang tetap), kekhawatiran (terhadap sesuatu yang kemungkinan akan menyakitinya), kesedihan, gangguan, dan duka-cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allâh akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR al-Bukhâri, no. 5642; Muslim, no. 2572].

Keempat : Agar Manusia Kembali Menuju Kebenaran, Beribadah Kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allâh)”. [ar-Rûm/30:41-42].

FAIDAH KEYAKINAN INI
Setelah mengetahui bahwa seluruh musibah yang menimpa manusia, penyebabnya adalah perbuatan manusia itu sendiri, maka keyakinan ini akan membuahkan hal-hal yang baik. Yaitu ketika seseorang atau masyarakat tertimpa musibah, maka mereka akan mawas diri dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya, lalu kembali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Penguasa mereka. Dengan demikian, keadaan mereka menjadi lebih baik daripada sebelum datangnya musibah. Bukan menyalahkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang telah menimpakan adzab kepada manusia.

Sebagai contoh, kekalahan kaum Muslimin dalam peperangan Uhud pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Penyebabnya adalah kemaksiatan sebagian sahabat terhadap perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah itu para shahabat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kejadian tersebut. Lalu mereka berhati-hati, jangan sampai kejadian serupa terulang.

Demikian juga kekalahan kaum Muslimin pada awal peperangan Hunain, adalah karena ‘ujub (kebanggaan) sebagian umat Islam karena jumlah yang banyak. Namun ternyata jumlah yang banyak semata, tidaklah membawa kemenangan, sampai Allâh memberikan pertolongan-Nya kepada mereka. Al-hamdulillâhi Rabbil-‘Alamîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Dishahîhkan oleh al-Albani dalam Shahîh al-Jâmi’ush-Shaghîr, no. 6717.
[2]. HR Ibnu Jarir. Lihat Shahîh al-Jâmi’ush-Shaghîr, no. 5624, 5639, 5694, 7608, 7609)
[3]. HR Ibnu Mâjah, no. 4019; al-Bazzar; al-Baihaqi; dari Ibnu Umar. Dishahîhkan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahîhah, no. 106; Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb, no. 764, Penerbit Maktabah al-Ma’arif.

Read more https://almanhaj.or.id/4298-sebab-dan-hikmah-musibah.html

Selasa, 18 Desember 2018

CIRI-CIRI ORANG YANG DIRINDUKAN NERAKA

Hasil gambar untuk neraka jahanamFaedah Surat Al Mulk, Keadaan Neraka dan Penghuninya

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akir zaman.

Berikut adalah tafsir surat Al Mulk. Saat ini kita akan membahas tafsir dan faedah surat Al Mulk ayat 6-11. Semoga kita tidak bosan-bosannya mengkaji Al Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (6) إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ (7) تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ (8) قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ (9) وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ (10) فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ (11

“ Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. ” (QS. Al Mulk: 6-11)

Jahannam, Seburuk-buruk Tempat Kembali

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al Mulk: 6). Ayat ini adalah ancaman untuk orang yang kufur terhadap Allah baik dari setan dan selainnya. Mereka diancam dengan siksaan jahannam. Dan ancaman ini bukan hanya ditujukan untuk setan sebagaimana konteks dari ayat kelima surat Al Mulk yang membicarakan tentang setan yang mencuri berita langit lalu mereka dilempar. Namun ayat ini mencakup setiap orang yag kufur dan menentang Allah1. Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali bagi mereka.2

Neraka Begitu Dalam

Mengapa neraka disebut jahannam?

Jahannam berarti sesuatu yang dasarnya amat dalam (ba’idatul qo’ri), sebagaimana disebutkan dalam Al Qomus3.Begitulah keadaan neraka, ia begitu dalam. Abu Hurairah mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَدْرُونَ مَا هَذَا ». قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا ».

“Kami dulu pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini.”4

Subhanallah .. begitu luar biasa dalamnya neraka.

Dalam ayat selanjutnya, Allah Ta’ala akan menceritakan keadaan siksaan di neraka -semoga Allah melindungi kita darinya-.

Sifat Neraka: Neraka Berteriak dan Mendidih

Allah Ta’ala berfirman,

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak.” (QS. Al Mulk: 7). Ayat ini menceritakan keadaan orang kafir ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka.

Apa yang dimaksud syahiqo dalam ayat di atas?

Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna syahiq adalah suara yang keluar dari bagian dalam tubuh dengan sangat kuatnya seperti suara keledai.5 Atau ringkasnya syahiq bermakna teriakan.6

Maksudnya adalah ketika orang kafir itu dilemparkan ke dalam neraka, neraka pun akan teriak. Lantas bagaimanakah lagi siksaan neraka bagi orang-orang kafir tersebut?!7

Apa yang dimaksud dengan tafuur?

Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna tafuur adalah mendidih.8 Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Neraka itu mendidih gara-gara orang kafir yang masuk di dalamnya. Gambaran mendidihnya adalah seperti sebuah biji yang jumlahnya sedikit mendidih dalam air yang jumlahnya banyak.”9

Itulah keadaan neraka yang berteriak dengan kencangnya dan mendidih gara-gara orang kafir yang masuk di dalamnya.

Sifat Neraka: Neraka Marah

Allah Ta’ala berfirman,

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ

“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah.” (QS. Al Mulk: 8). Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah.

Yang memiliki perkaataan serupa dengan Ibnu ‘Abbas adalah Adh Dhohak dan Ibnu Zaid -rahimahumullah-. Allah marah terhadap orang yang bermaksiat pada-Nya dan murka pada Allah.10

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di -rahimahullah- berkata, “Neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah pada orang-orang kafir. Lantas bagaimana tanggapanmu, apa yang akan dilakukan neraka pada orang-orang kafir tersebut ketika mereka berada dalam neraka?!”11

Seperti itulah neraka. Ketika orang kafir masuk ke dalamnya saja, ia begitu marah. Lantas bagaimana lagi siksaan yang menimpa mereka?! Semoga Allah melindungi kita dari siksaan yang pedih ini.

Sudahkah Datang Kepada Orang Kafir Pemberi Peringatan?

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ

“Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” (QS. Al Mulk: 8).

Maksudnya, penduduk neraka ditanya apakah di dunia sudah datang pada mereka pemberi peringatan tentang adzab neraka yang mereka alami saat ini?12

Orang-orang kafir lantas menjawab,

بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ

“Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”. ” (QS. Al Mulk: 9)

Lihatlah jawaban orang kafir:

Mereka mendustakan pemberi peringatan yang diutus pada mereka.

Mereka mendustakan secara umum yaitu dengan mengatakan bahwa mereka tidak diturunkan wahyu sedikit pun.

Namun tidak berhenti sampai di situ, mereka pun menyesat-nyesatkan para rasul yang memberi peringatan. Padahal para rasul adalah orang yang memberi petunjuk dan diberi petunjuk oleh Allah.

Tidak cukup hanya menyesatkan para rasul. Mereka pun menyatakan bahwa para rasul telah berada dalam kesesatan yang besar.

Adakah penentangan, kesombongan dan kezholiman yang menyerupai kelakuan orang kafir ini?!13 Na’udzu billahi min dzalik.

Seseorang Akan Disiksa Jika Telah Datang Peringatan padanya

Faedah lain dari surat Al Mulk ayat 8 dan 9 adalah menunjukkan keadilan Allah Ta’ala. Yaitu seorang hamba tidaklah disiksa melainkan setelah ditegakkan hujjah pada dirinya dan telah diutus seorang Rasul padanya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lainnya,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Isro’: 15)

حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا بَلَى وَلَكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. ” (QS. Az Zumar: 71)14

Penjelasan ini adalah untuk keadaan di akhirat nanti yaitu seseorang tidak akan disiksa sampai datang padanya seorang Rasul atau pemberi peringatan. Namun untuk di dunia, seseorang dihukumi sesuai dengan agama yang dia menyandarkan dirinya padanya. Jika saat ini seseorang menyandarkan dirinya pada agama Yahudi dan Nashrani, maka status orang tersebut kafir. Namun apakah ia mendapatkan hukuman di akhirat? Ini tergantung dari telah sampai pada dirinya peringatan ataukah tidak. Semoga kita memahami hal ini.

Orang Kafir Begitu Menyesal

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“ Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. Al Mulk: 10)

Orang kafir ini berandai-andai jika saja mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk, yaitu pendengaran dan akal mereka bisa mengambil manfaat terhadap wahyu yang Allah turunkan dan Rasul yang datang di tengah-tengah mereka. Namun mereka tidak memanfaatkan pendengaran dan akal. Hal ini jauh berbeda dengan orang yang mendapatkan petunjuk yang memanfaatkan pendengaran dan akal mereka untuk mengilmui dan mengamalkan ilmu.15

Akhirnya, Orang Kafir Mengakui Kesalahan Mereka

Allah Ta’ala berfirman,

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 11). Akhirnya, orang-orang kafir itu mengakui dosa-dosa mereka. Sebagaimana hal ini terdapat dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَنْ يَهْلِكَ النَّاسُ حَتَّى يُعْذِرُوا مِنْ أَنْفُسِهِمْ

“Seorang tidak akan merasa dirinya binasa hingga ia pun mengakui kesalah-kesalahan yang dirinya lakukan sendiri.”16

Lihat pula hadits dari Abu Hurairah berikut.

لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ النَّارَ إِلاَّ أُرِىَ مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ لِيَكُونَ عَلَيْهِ حَسْرَةً وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِىَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْدَادَ شُكْراً

“Seseorang yang masuk neraka akan menyesal ketika ia ditampakkan tempat duduknya di surga seandainya surga itu baik baginya. Dan seseorang yang masuk surga akan bertambah syukur ketika ia ditampakkan tempat duduknya di neraka seandainya neraka layak untuknya.”17 18

Demikian beberapa faedah penting dari surat Al Mulk ayat 6-11. Semoga bermanfaat dan semakin menambah keimanan kita.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari siksa neraka.

Begitu sejuknya hati ini jika tiap hari selalu diisi dengan siraman ayat-ayat Al Qur’an. Semoga Allah senantiasa memberi keistiqomahan.

Referensi:

Al Qomus Al Muhith, Al Fairuz Abadiy, Mawqi’ Al Waroq.

Musnad Al Imam Ahmad bin Hambal, Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Muassasah Qurthubah.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Mawsu’ah Qurtubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Tafsir Ath Thobari (Jami’ Al Bayan min Ta’wil Ayil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, Tahqiq: Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, terbitan Hijr.

Tafsir Fakhrur Rozi (Mafatihul Ghoib), Fakhruddin Ar Rozi, Darul Fikr, cetakan pertama, tahun 1401 H

Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Shahih Muslim, Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya’ At Turots Beirut.

Footnote:

1 Lihat Tafsir Fakhur Rozi, 30/63.
2 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73.
3 Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/205
4 HR. Muslim no. 2844.
5 Tafsir Ath Thobari, 23/123.
6 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73.
7 Faedah dari Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.
8 Tafsir At Thobari, 23/124.
9 Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73.
10 Lihat Tafsir At Thobari, 23/124-125. Lihat pula Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73.
11 Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.
12 Tafsir At Thobari, 23/125.
13 Faedah dari Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.
14 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73.
15 Lihat Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.
16 HR. Ahmad, 5/293. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.
17 HR. Ahmad, 2/541. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut shahih, namun sanadnya hasan.
18 Faedah dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73-74.

sumber: Group diskusi

Minggu, 16 Desember 2018

Pamer Kopi

Hasil gambar untuk minum kopiApakah pamer kopi di grup itu dibolehkan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Terdapat beberapa ayat yang mencela perbuatan bangga terhadap dunia. Baik yang bentuknya larangan, atau yang bentuknya celaan.

Diantaranya, firman Allah yang menceritakan kondisi Qarun bersama masyarakatnya. Qarun sangat bangga dengan harta yang dia miliki. Hingga masyarakatnya yang taat menasehati Qarun,

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa[1138], maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS. al-Qashas: 76)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah membenci orang yang bangga dengan dunianya.

Di ayat yang lain, Allah berfirman,

وَفَرِحُواْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ

Mereka bersikap bangga terhadap kehidupan dunia. Padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. ar-Ra’du: 26).

Dalam tafsir as-Sa’di dinyatakan,

أي: لا تفرح بهذه الدنيا العظيمة، وتفتخر بها، وتلهيك عن الآخرة، فإن اللّه لا يحب الفرحين بها

Artinya, janganlah kamu merasa sombong dengan duniamu yang banyak, bangga dengannya, sementara itu melalaikanmu dari akhirat. Karena Allah tidak menyukai orang yang bangga dengan dunia. (Tafsir as-Sa’di, hlm. 623).

Ada banyak fenomena yang menunjukkan kebanggaan seseorang terhadap dunia. Diantaranya pamer dunia atau harta yang dia miliki. Termasuk berfoto atau selfie dengan kekayaan dunia, seperti orang yang berfoto dengan mobil barunya. Atau menunjukkan jabatannya, seperti mereka yang berpose dengan semua atribut jabatan kebanggaannya. Bukan untuk data, bukan untuk kebutuhan, tapi untuk cari perhatian orang lain…

Selanjutnya, anda bisa menimbang, apakah pamer kopi di grup WA, atau di medsos lainnya, termasuk dalam kategori pamer dunia ataukah tidak?

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/31504-hukum-pamer-kopi.html

Senin, 10 Desember 2018

CIRI KHAS PENGIKUT HAROKAH [1]

Hasil gambar untuk harakah sesatOleh: Syaikh Abdul Malik Ramadhaaniy Al-Jazaairy

Orang-orang harokah adalah suatu kaum yang (kelihatannya) berjuang untuk Islam. Mereka berpendapat bahwa memahami agama ini tidaklah cukup untuk memperjuangkan Islam, sampai setiap individu bergabung di dalam suatu gerakan dakwah, yang didalamnya mereka diperintah dan dilarang, (mereka harus) mendengar dan taat. Kegiatan ini kebanyakan disertai dengan bai’at dan sumpah setia, meskipun mereka berada di dalam suatu negara yang dipimpin oleh penguasa muslim.

Oleh karena itu, kita bisa memahami sebab penamaan diri mereka dengan sebutan “Para Pengikut Harokah”, yaitu karena persangkaan buruk mereka bahwa fikih agama ini tidak bisa menggerakkan [2], maksudnya tidak bisa menggerakkan (manusia) untuk memberontak singgasana para penguasa. Mereka menganggap para ulama tak ubahnya seperti gelandangan yang tidak diatur oleh suatu gerakan. Hal itu dikarenakan para ulama tersebut telah menjadi kaki tangan para penguasa, sedangkan mereka tidak sadar.

Adapun harokah, bagi para pengikutnya merupakan suatu hal yang bisa menjadikan para ulama tersebut mengetahui rencana-rencana pemerintah, serta berbagai kelemahan peraraturan-peraturannya. Harokah juga membuka mata para ulama tersebut dari suatu fikih yang mereka masih buta terhadapnya, yang dinamakan ‘Fiqhul Waqi” (Fikih Kenyataan). Mereka itulah orang-orang harokah yang sebenarnya, dimanapun mereka berada.

Jadi, mereka (orang-orang harokah) itu bergerak atas nama Islam untuk menggulingkan singgasana para penguasa dan para pemimpin yang mereka anggap tidak berbuat adil [3]. Maka mereka secara lahir bergerak untuk Islam, tapi secara batin (mereka) sangat haus dengan kekuasaan. Bukti semua ini adalah : Mereka tidak memelihara hukum-hukum Allah di dalam pergerakan mereka. Jika perasaan mereka bertentangan dengan batasan-batasan syari’at, maka mereka akan mendahulukan perasaan mereka. Bukankah kalian telah melihat, bahwa mereka benar-benar menolak hukum Allah tentang haramnya memberontak terhadap penguasa muslim yang dholim [4], dan mereka memberikan opini kepada masyarakat, bahwa tindakan tersebut [5] merupakan bentuk penghinaan terhadap rakyat !!

Kadang-kadang anda akan menjumpai diantara orang-orang harokah tersebut, ada seseorang yang siap untuk menerima segala sesuatu yang bersumber dari aqidah salaf, kecuali di dalam satu permasalahan ini. Sungguh hati-hati mereka dengki terhadapnya, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa seorang mukmin hatinya suci dari rasa dengki terhadap para penguasa.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Tiga hal yang hati seorang muslim.tidak akan dengki terhadapnya : Mengikhlaskan amal perbuatan karena Allah, menasehati para pemimpin kaum muslimin, serta menetapi jama’ah kaum muslimin, karena sesungguhnya do’a berada di belakang mereka” [Hadits ini diriwayatkan oleh At-Turmudzy (2582) dan lainnya, serta derajatnya shohih, asal hadits ini ada pada shahih Muslim (1715)]

Di dalam “Miftah Daaris Sa’adah” (hal : 79) Ibnul Qoyyim mengatakan : ((Hati seorang muslim tidak akan menyimpan kedengkian, dan kedengkian itu sendiri tidak bersemayam di dalam hatinya bersama dengan tiga hal tersebut ; karena tiga hal tadi akan menolak kedengkian, kecurangan, serta perusak-perusak hati.

Seorang yang ikhlas karena Allah, keikhlasannya tersebut akan mencegah kedengkian di dalam hatinya. Keikhlasannya juga akan mengeluarkan penyakit tersebut dan membersihkannya secara total ; karena, betikan dan keinginan hatinya telah beralih menuju keridhoaan Rabbnya.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ

“serta menetapi jamaah kaum muslimin”

Ini juga termasuk hal yang mensucikan hati dari kedengkian dan kecurangan. Pemilik hati ini karena kesetiannya terhadap jama’ah kaum muslimin, dia akan mencintai (bagi kaum muslimin) sesuatu yang dia cintai bagi dirinya sendiri, dan dia akan membenci (bagi kaum muslimin) sesuatu yang dia benci jika menimpa dirinya sendiri. Dia juga akan merasa susah terhadap sesuatu yang menyusahkan kaum muslimin, dan dia akan merasa senang terhadap sesuatu yang menjadikan senang kaum muslimin.

Ini semua berbeda dengan orang yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin, serta sibuk mencela, mencaci dan mencemooh mereka, seperti perbuatan orang-orang rofidhoh, khowarij, mu’tazilah dan selain mereka [6], karena sesungguhnya hati mereka penuh dengan kedengkian dan kecurangan, maka dari itu anda akan mendapati bahwa orang-orang rofidhoh mereka adalah manusia yang paling jauh dari keikhlasan, mereka adalah manusia yang paling curang terhadap para penguasa muslim, dan juga mereka adalah manusia yang paling jauh dari jama’ah kaum muslimin)).

Barangsiapa yang telah mengenal dakwah orang-orang harokah, maka dia pasti mengetahui kecurangan mereka di dalam tiga hal ini.

Adapun kecurangan mereka terhadap tauhid, dikarenakan mereka adalah manusia yang paling jauh dari memperhatikan tauhid, sampai-sampai mereka akan melarang (dakwah) tauhid itu jika diperkirakan akan menjadi sebab menjauhnya massa dari diri mereka, bahkan sungguh anda akan mendapati diantara tokoh-tokoh mereka, ada yang tidak bisa membedakan antara syirik dengan tauhid, sebagaimana yang akan adan lihat setelah pembahasan ini.[7]

Adapun kecurangan mereka terhadap jama’ah kaum muslimin, maka seluruh aksi-aksi mogok yang terjadi di negeri-negeri Islam, mereka berada dibelakangnya. Bahkan ciri khas (yang menonjol dari) mereka adalah : Mereka tidak akan mengumpulkan massa kecuali untuk memprovokasi agar melawan penguasa, dan hampir-hampir mereka tidak pernah insaf, walaupun mereka melihat rakyat berjungkir balik antara dipenjara, dibunuh, dan dirampas (harta dan kehormatan mereka), karena termasuk prinsip mereka, yang dengannya mereka menipu rakyat jelata adalah : Tidak mengapa, bahkan harus terjadi pemusnahan suatu generasi untuk memberikan kesempatan kepada generasi selanjutnya ! (resiko perjuangan –kata mereka- edit)

Permasalahan ini[8], begitu mengakar didalam hati mereka begitu juga dengan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti masalah fikih dan hukum-hukum amal perbuatan yang akan mendukung tujuan pergerakan mereka, seperti permasalahan bai’at, politik, fanatisme partai dengan kedua sisinya, baik dalam wujud propaganda maupun dalam wujud nyata yaitu parlemen, sandiwara, drama, nasyid dan selainnya.

Meskipun ruh seorang harokah keluar, dia tidak akan mengharamkan hal-hal diatas (nasyid dll) yang merupakan (ruh) pembangkit dakwahnya. Oleh karenanya, berdialog bersamanya dalam masalah ini ibaratnya berdialog dengan orang-orang tua/awam dari kaum muslimin dalam masalah ushuluddin (prinsip-prinsip agama).

Seorang harokah terkenal dengan semangatnya yang membara, dimanapun dia berada. Anda akan melihatnya bersemangat mengumpulkan massa meski bukan lewat jalur yang benar. Dia sangat antusias mencari info dalam pemerintahan dan amat berlebihan menukil berita-berita tersebut. Dia sangat mudah sekali membenarkan berita tentang aib-aib pemerintah/penguasa dan amat bersemangat dalam menyebarluaskannya. Dia sangat mudah memuji orang-orang yang menentang penguasa. Dan dia kurang memperhatikan masalah-masalah tauhid melainkan apa yang mereka namakan tauhid “Hakimiyah” ![9] Sunnah menurutnya adalah sekedar kulit (kurang berharga/penting) dan belajar agama adalah ilmu yang telah dimakan waktu.

(Tulisan ini dialihbahasakan dari buku “Khuroofah Harokiy” karangan Syaikh Abdul Malikj bin Ahmad bin Al-Mubaraak Ramadhaany Al-Jazaairy, halaman 16-18, Penerjemah Abu Zahroh Imam Wahyudi Lc)

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 15 Th. III 1426H/2005M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali-Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda Surabaya]
_______
Footnote
[1]. Tulisan ini dialihbahasakan dari buku “Khuroofatah Harokiy” karangan Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubaarok Romadhooniy Al-Jazaairy, halaman : 16-18. Beliau seorang penuntut ilmu agama yang disegani, berasal dari Aljazair, dan sempat menyaksikan sendiri tragedi pembantaian umat Islam di Aljazair. Sekarang beliau berdomisilli di Madinah dan belajar kepada ahli hadits Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidhohullah.

Bab ini, kami pilih untuk diangkat dengan harapan bisa menjadi bekal berharga bagi kaum muslimin yan sudah bermanhaj salaf, atau yang sudah mengenalnya, akan tetapi masih bingung dikarenakan syubhat yang dilontarkan oleh kelompok yang benci terhadap manhaj salaf, setelah melihat begitu besarnya antusias masyarakat untuk menerima dakwah yang diberkahi ini, mereka (para pengikut pergerakan) tidak memiliki pilihan lain untuk membendung dan menghancurkannya kecuali dengan cara masuk dan mengaku sebagai penganut manhaj salaf, lalu menyebarkan pemahaman kelompoknya dengan nama salaf.

[2]. Karena, harokah di dalam bahasa arab bermakna : gerakan –pent
[3]. Inilah yang selalu mereka gembar gemborkan dari zaman leluhur mereka yaitu Dzul Khuwaisiroh yang pernah memprotes/mengkritik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membagikan harta rampasan perang (lihat kitabus sunnah oleh Ibnu Abi ‘Ashim hadits (910) dengan takhrij Syaikh Al-Albani hal.430 (editor)

[4]. Ini adalah salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang amat mulia. Anda bisa mendapatkan pembahasannya dengan lebih luas dan terperinci di dalam buku-buku aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, di antaranya : buku “Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah” beserta penjelasan, jilid 2 halaman 576-579. Prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang satu ini akan terlihat semakin berkilau dan bercahaya keagungannya, ketika kita merenungi kisah ketegaran Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dalam mempertahankan salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang lain, yaitu bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah, dan bukan makhlukNya, di hadapan kholifah bani Abbasiyah yang bergelar Al-Ma’mun. Sampai-sampai beliau dipenjara dan dicambuki, dan begitu banyak para ulama yang dibunuh pada masa itu. Jika seandainya Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang politikus sekuler, atau seorang pimpinan partai, atau seorang khawarij, atau seorang syi’ah, atau seorang yang haus dengan kekuasaan, niscaya beliau akan melakukan pemberontakan, atau minimal menyerukan demonstrasi menentang pemerintah.

Akan tetapi beliau adalah seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Salafiyyah) yang takut dan taat kepada Allah dan rasulNya, memiliki pandangan yang jauh, serta lebih mengutamakan keselamatan umat daripada diri sendiri, maka beliau tetap bersabar dan tidak memberontak sampai bergantinya kekhalifahan, kemudian beliau dibebaskan dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dikukuhkan lagi, serta umatpun diselamatkan aqidah dan jiwa mereka. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kami untuk menukilkan secara lengkap kisah emas tersebut dikemudian hari, amin. –pent

[5]. Yaitu : tindakan tunduk dan tidak memberontak terhadap penguasa muslim yang dholim –pent
[6]. Penyebutan tiga firqoh ini disebabkan oleh karena mereka adalah firqoh yang paling menonjol di dalam hal menyerukan pemberontakan terhadap para penguasa muslim
[7]. Akan kami muat pada edisi berikutnya, insya Allah, -pent
[8], Prinsip memberontak atau membangkang terhadap pemerintah yang dholim
[9]. Ini adalah istilah baru (bid’ah) ….Sebagian ulama menyerupakannya dengan aqidah Syi’ah yang menjadikan masalah “Imamah” sebagai hal terpenting dalam aqidah (mereka) !! (Ta’liq dalam “At-Tahdzir min Fitnatit Takfir” Oleh Syaikh Ali bn Hasan –Hafidhullah- hal.6) –editor

Read more https://almanhaj.or.id/3974-ciri-khas-pengikut-harokah.html