Ibadah dan penghambaan di dalam Islam hanya ditujukan kepada Allah semata. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya
Penghambaan merupakan wujud menghinakan diri dan merendahkan diri maka tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, baik benda-benda yang dikeramatkan, makhluk yang dikultuskan, tempat-tempat yang disakralkan.
Karenanya di dalam sholat sehari semalam kita senantiasa melisankan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin (hanya kepada Engkaulah kami menghamba dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan).
Maknanya dijelaskan oleh Syaikh Al-'Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad, beliau mengatakan,
(إياك نعبد وإياك نستعين) يدل على توحيد الألوهية وتقديم المفعول على الفعلين يدل على الحصر
"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin ayat ini menunjukkan esensi tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam penghambaan. Dan mendahulukan maf'ul (objek) yaitu iyyaaka atas dua fi'il (kata kerja) yaitu na'budu dan nasta'in dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan pembatasan.
وأن العبادة لا تكون إلا لله وأن الاستعانة فيما لا يقدر عليه إلا الله لا تكون إلا بالله
Dan ibadah serta penghambaan hanya ditujukan kepada Allah semata. Begitupula meminta pertolongan jika hanya Allah yang kuasa memenuhinya maka tidak boleh dipintakan kepada selain-Nya."
(Kutub wa Rosa'il 1/151)
Inilah yang disebut dengan pemurnian ibadah. Yaitu ikhlas niatnya hanya karena Allah, yang dicari hanya keridhoan Allah, yang dituju hanya Allah, dan caranya mengikuti petunjuk Rosulullah ﷺ.
Seorang hamba juga harus menyadari bahwa dirinya tidak mampu beribadah kepada Allah kecuali karena pertolongan Allah dan kekuatan dari-Nya.
Siapa yang benar-benar merealisasikan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in maka Allah akan menganugerahkan kepadanya keamanan serta petunjuk dunia akhirat.
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling utama dan para awliya Allah yang sesungguhnya.
https://t.me/manhajulhaq
Mengaku Bertemu Roh Nabi Muhammad ﷺ dalam Kondisi Sadar?
Ahsanallah ilaikum ustadz, apakah mungkin melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung setelah beliau wafat seperti yang diakui sebagian orang?
Jawab: Orang yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam keadaan sadar hanya di antara dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, dia berdusta meski bersumpah atas nama Allah. Kemungkinan kedua yang mendatanginya adalah syaithon dari kalangan jin yang mengaku sebagai Nabi ﷺ.
Syaithon memang tidak mampu menyerupai diri Nabi ﷺ, akan tetapi dia bisa berdusta mengaku sebagai Nabi untuk mempermainkan orang yang jauh dari aqidah yang benar.
Pengakuan semacam itu telah diingkari oleh para ulama antara lain Al-Imam As-Sakhowi salah seorang ulama madzhab Syafii, beliau berkata:
لم يصل إلينا ذلك عن أحد من الصحابة ولا عن من بعدهم وقد اشتد حزن فاطمة عليه صلى الله عليه وسلم حتى ماتت كمدا بعده بستة أشهر - على الصحيح- وبيتها مجاور لضريحه الشريف، ولم ينقل عنها رؤيته فى المدة التى تأخرت عنه
"Tidaklah sampai kepada kami pengakuan seperti itu dari seorangpun dari kalangan shohabat Nabi, tidak pula dari orang-orang sepeninggal para shohabat. Sungguh dahulu Fathimah dirundung duka lantaran wafatnya Nabi ﷺ sehingga Fathimah meninggal dunia karenanya setelah enam bulan menurut pendapat yang shohih. Sedangkan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi yang mulia, tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan Fathimah melihat Nabi ﷺ selama itu dalam keadaan sadar."
(Al-Mawahibul Laduniyah 5/295)
Fathimah adalah salah seorang puteri Nabi ﷺ, orang yang dicintai beliau, dan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi ﷺ, tetapi Fathimah tidak pernah mengaku didatangi Nabi ﷺ. Padahal Fathimah orang yang lebih berhak dibandingkan orang lain di zaman ini.
Para ulama kontemporer yang tergabung dalam komite riset ilmiah dan fatwa juga mengingatkan:
وأما دعوى بعض الصوفية أنه يرى النبي صلى الله عليه وسلم يقظة فشيء لا أصل له بل هو باطل وإنما يرى صلى عليه وسلم يوم القيامة
"Adapun pengakuan sebagian orang-orang tarekat shufi yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam kondisi sadar maka itu perkara yang tidak ada asalnya sama sekali, bahkan itu jelas kebatilan, Nabi ﷺ hanya dapat dilihat secara langsung pada hari kiamat."
(Fatwa Lajnah no. 5553 ketua Syaikh Al-'Allamah bin Baz)
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada petunjuk ilmu dan pemahaman yang benar, wa billahit tawfiq.
https://t.me/manhajulhaq
Penghambaan merupakan wujud menghinakan diri dan merendahkan diri maka tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, baik benda-benda yang dikeramatkan, makhluk yang dikultuskan, tempat-tempat yang disakralkan.
Karenanya di dalam sholat sehari semalam kita senantiasa melisankan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin (hanya kepada Engkaulah kami menghamba dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan).
Maknanya dijelaskan oleh Syaikh Al-'Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad, beliau mengatakan,
(إياك نعبد وإياك نستعين) يدل على توحيد الألوهية وتقديم المفعول على الفعلين يدل على الحصر
"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin ayat ini menunjukkan esensi tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam penghambaan. Dan mendahulukan maf'ul (objek) yaitu iyyaaka atas dua fi'il (kata kerja) yaitu na'budu dan nasta'in dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan pembatasan.
وأن العبادة لا تكون إلا لله وأن الاستعانة فيما لا يقدر عليه إلا الله لا تكون إلا بالله
Dan ibadah serta penghambaan hanya ditujukan kepada Allah semata. Begitupula meminta pertolongan jika hanya Allah yang kuasa memenuhinya maka tidak boleh dipintakan kepada selain-Nya."
(Kutub wa Rosa'il 1/151)
Inilah yang disebut dengan pemurnian ibadah. Yaitu ikhlas niatnya hanya karena Allah, yang dicari hanya keridhoan Allah, yang dituju hanya Allah, dan caranya mengikuti petunjuk Rosulullah ﷺ.
Seorang hamba juga harus menyadari bahwa dirinya tidak mampu beribadah kepada Allah kecuali karena pertolongan Allah dan kekuatan dari-Nya.
Siapa yang benar-benar merealisasikan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in maka Allah akan menganugerahkan kepadanya keamanan serta petunjuk dunia akhirat.
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling utama dan para awliya Allah yang sesungguhnya.
https://t.me/manhajulhaq
Mengaku Bertemu Roh Nabi Muhammad ﷺ dalam Kondisi Sadar?
Ahsanallah ilaikum ustadz, apakah mungkin melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung setelah beliau wafat seperti yang diakui sebagian orang?
Jawab: Orang yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam keadaan sadar hanya di antara dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, dia berdusta meski bersumpah atas nama Allah. Kemungkinan kedua yang mendatanginya adalah syaithon dari kalangan jin yang mengaku sebagai Nabi ﷺ.
Syaithon memang tidak mampu menyerupai diri Nabi ﷺ, akan tetapi dia bisa berdusta mengaku sebagai Nabi untuk mempermainkan orang yang jauh dari aqidah yang benar.
Pengakuan semacam itu telah diingkari oleh para ulama antara lain Al-Imam As-Sakhowi salah seorang ulama madzhab Syafii, beliau berkata:
لم يصل إلينا ذلك عن أحد من الصحابة ولا عن من بعدهم وقد اشتد حزن فاطمة عليه صلى الله عليه وسلم حتى ماتت كمدا بعده بستة أشهر - على الصحيح- وبيتها مجاور لضريحه الشريف، ولم ينقل عنها رؤيته فى المدة التى تأخرت عنه
"Tidaklah sampai kepada kami pengakuan seperti itu dari seorangpun dari kalangan shohabat Nabi, tidak pula dari orang-orang sepeninggal para shohabat. Sungguh dahulu Fathimah dirundung duka lantaran wafatnya Nabi ﷺ sehingga Fathimah meninggal dunia karenanya setelah enam bulan menurut pendapat yang shohih. Sedangkan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi yang mulia, tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan Fathimah melihat Nabi ﷺ selama itu dalam keadaan sadar."
(Al-Mawahibul Laduniyah 5/295)
Fathimah adalah salah seorang puteri Nabi ﷺ, orang yang dicintai beliau, dan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi ﷺ, tetapi Fathimah tidak pernah mengaku didatangi Nabi ﷺ. Padahal Fathimah orang yang lebih berhak dibandingkan orang lain di zaman ini.
Para ulama kontemporer yang tergabung dalam komite riset ilmiah dan fatwa juga mengingatkan:
وأما دعوى بعض الصوفية أنه يرى النبي صلى الله عليه وسلم يقظة فشيء لا أصل له بل هو باطل وإنما يرى صلى عليه وسلم يوم القيامة
"Adapun pengakuan sebagian orang-orang tarekat shufi yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam kondisi sadar maka itu perkara yang tidak ada asalnya sama sekali, bahkan itu jelas kebatilan, Nabi ﷺ hanya dapat dilihat secara langsung pada hari kiamat."
(Fatwa Lajnah no. 5553 ketua Syaikh Al-'Allamah bin Baz)
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada petunjuk ilmu dan pemahaman yang benar, wa billahit tawfiq.
https://t.me/manhajulhaq






0 komentar:
Posting Komentar