💠 Ketika badan berbaring tak berdaya karena sakit, akan tetapi lisan kita terkadang masih bisa digunakan.
💠 Oleh karena itu sebaiknya lisan kita digunakan untuk berdzikir, selain doa-doa kesembuhan dan kebaikan dunia-akhirat ada juga wirid selama sakit yang sering kita baca dan mudah diucapkan yaitu “Hauqalah” atau mengucapakan (لا حول ولا قوة إلا بالله) “laa haula wala quwwata illa billah”.
💠 Bisa jadi dengan dzikir ini kita diberikan kesembuhan dan kemudahan dunia-akhirat.
♻️ Beberapa Keutamaan hauqalah
Sebaiknya kami bawakan beberapa keutamaan hauqalah sebelumnya:
⚛️-Merupakan tabungan/simpanan untuk surga
💟 Rasulullah Shallalahu ’alaihi Wasallam bersabda,
يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »
“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’”[1]
💗Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال:”هي كنز من كنوز الجنة” والكنز مال مجتمع لا يحتاج إلى جمع؛ وذلك أنَّها تتضمن التوكل والافتقار إلى الله تعالى.
“Nabi Shallalahu ’alaihi Wasallam mengatakan “salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi “, lafadz (الكنز) “al-Kanzu” maknanya adalah harta yang terkumpul dan tidak membutuhkan lafadz jamak (كنوز), hal tersebut karena hauqalah mengandung makna tawakkal dan iftiqar (membutuhkan) Allah Ta’ala.”[2]
⚛️-Merupakan salah satu dari pinta surga
💗 Rasulullah Shallalahu ’alaihi Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,
ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد
“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”[3]
⚛️-Amalan yang dianjurkan untuk sering dibaca
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
💗Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.[4]
🚦Hauqalah hendaknya sering-sering dibaca oleh orang sakit
💗Syaikh Abdullah bin AL-Jibrin rahimahullah ditanya,
س: يوصي بعض الزائرين المريض بالإكثار من الحوقلة ( لا حول ولا قوة إلا بالله ) فهل لنا أن نعرف من فضيلتكم أهمية هذه الكلمة وهل ورد فيها شيء من السنة؟
“Sebagian penjenguk orang yang sakit memberikan nasihat agar si sakit banyak-banyak membaca hauqalah (laa haula wala quwwata illa billah), apakah urgensi dari kalimat ini dan apakah terdapat dalam sunnah?”
💗Beliau menjawab,
نعم …ومعنى هذه الجملة اعتراف الإنسان بعجزه وضعفه إلا أن يقويه ربه، فكأنه يقول: يا رب ليس لي حول ولا تحول من حال إلى حال ولا قدرة لي على مزاولة الأعمال إلا بك، فأنا محتاج إلى تقويتك وإمدادك، ففيها البراءة من الحول والقوة، وإن الرب تعالى هو الذي يملك ذلك، ويمد عباده بما يعينهم على أمر دنياهم ودينهم، والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.
💗“iya…Makna kalimat ini (hauqalah) adalah pengakuan manusia akan tidak berdaya serta lemahnya dirinya dan berharap agar Rabb-nya memberikan kekuatan padanya, seakan-akan ia (si sakit) berkata, ‘wahai Rabb-ku, hamba tidak memiliki daya dan tidak bisa mengubah keadaan, tidak pula memiliki upaya dalam melakukan amal kecuali dengan bantuan-Mu, Hamba membutuhkan taufik dan bantuan-Mu.
💗Dalam kalimat ini terdapat pengakuan ketidakmampuan dalam daya dan upaya karena hanya Allah Ta’ala yang memilikinya.
💗Ia membantu dan menolong hamba-Nnya dalam urusan agama dan dunia.”[5]
🚦Penyakit yang diderita termasuk bahaya dan bahaya tersebut bisa dihilangkan dan diangkat, Makhul rahimahullah berkata,
)) قال مكحول : فمن قال : (( لا حول ولا قوة إلا بالله ولا منجا من الله إلا إليه ، كشف الله عنه سبعين بابا من الضر أدناها الفقر ))
“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa haula wala quwwata illa billah wala manjaa minallah illa ilaih’ maka Allah akan mengangkat darinya 70 pintu bahaya dan mencegah kefakiran darinya.[6]
💗 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
وقول ” لا حول ولا قوة إلا بالله ” يوجب الإعانة ؛ ولهذا سنها النبي صلى الله عليه وسلم إذا قال المؤذن : ” حي على الصلاة . فيقول : المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله فإذا قال : حي على الفلاح قال المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله “
“Ucapan laa haula wala quwwata illa billah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan), oleh karena itu Rasulullah Shallalahu ’alaihi Wasallam memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “hayya ‘alas shalah”, maka dijawab, ‘laa haula wala quwwata illa billah’, jika muadzzin mengucapkan, ‘hayya ‘alal falah’, dijawab’ laa haula wala quwwata illa billah’ (minta bantuan kepada Allah Agar bisa melaksanakannya, pent)”[7]
💟 Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafidzhullah berkata,
أنَّها كلمة استعانة بالله العظيم، فحريٌّ بقائلها والمحافظ عليها أن يظفر بعون الله له وتوفيقه وتسديده
“Kalimat ini adalah permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Agung, layak bagi pengucapnya dan menjaganya (wiridnya) agar ia berhasil dengan bantuan, taufik dan petunjuk dari Allah.”[8]
🚦Demikianlan jika kita menjenguk orang sakit atau sedang ditimpa penyakit maka hendaknya memperbanyak membaca hauqalah.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.
[1] HR. Bukhari no.4205, Muslim no.7037
[2] Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah
[3] HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Jami’ no.2610
[4] HR. Ahmad 5/159, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah no, 2166
[5] Fatawa Asy-Syar’iyyah fii Masa’ilit Thibbiyah pertanyaan no. 4
[6] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dihshahihkan oleh al-Hakim
[7] Majmu’ Fatawa 13/321, Darul Wafa, cet. III, 1426 H, syamilah
[8] Dalalaatul Hauqalah Al-Aqdiyah, sumber: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?p=38919&langid=3
http://muslimafiyah.com/orang-sakit-sering-sering-membaca-hauqalah-laa-haula-wala-quwwata-illa-billah.html
Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK, Alumnus Ma'had Al Ilmi Yogyakarta)
💟 Hanya Alloh yang memberi Taufik & hidayah untuk berbuat kebajikan.
🤲 Yang Selalu Mengharap Ampunan Dari ROBBnya.
Barokalloh fiikum
Senin, 10 Juni 2024
KEUTAMAAN HAUQALAH
Senin, 27 Mei 2024
BERMUNCULAN PARA PEMBENCI DAKWAH SALAF
Saya kena tag lagi orang yang satu ini. Tentang potongan video Ustadz Muflih Safira. Dan beliau sudah menjelaskan, saya tidak perlu lagi panjang lebar untuk menjawabnya.
Alhamdulillah dengan berbagai fitnah yang viral akhir-akhir ini banyak membuka kedok para hizbiyyun yang membenci dakwah salaf dan para ustadz salafi. Yang mungkin selama ini bersembunyi di balik jubah salafi.
Berkata Ibnu Baththah rahimahullah :
‘‘إن هذه الفتن و الأهـوَاء، قد فضحت خلقاُ كثيراً، و كشَـفَت أستَـارَهُم عن أصُـول قَبيحَة، فإن أَصوَن النـاس لنفسه ؛ أحفظهم للــسانه،
Sesungguhnya berbagai fitnah dan hawa nafsu, sungguh telah membongkar kedok sekian banyak orang dan menyingkap tirai yang menutupi prinsip-prinsip mereka yang buruk. (Al Ibanah Kubro jld 2 hlm 596).
Seseorang mungkin selama ini nampak seperti ahlussunnah dan salafiyyah, baik dia berperan sebagai ustadz atau tholabul ilmi, namun suatu saat Allah Ta'ala buka hijabnya, sehingga tampaklah sikap hizbi dan mubtadi dalam dirinya. Mungkin sekarang banyak yang terpengaruh dan tertipu dengan gaya penampilan dan retorikanya. Padahal sejatinya dia seorang hizbi mubtadi bukan salafi ahlussunnah.
Berkata syaikh Ahmad Bin Yahya An Najmi rahimahullah :
الذي يُظهر للناس أنــه عـلى السنة والسلفية وهو مبتدع فلابـد أن الله عزوجل سيكشف عـواره مهما بقي مندســاً
Seseorang yang menampakkan kepada manusia bahwa ia berada di atas sunnah dan salafiyyah padahal dia seorang mubtadi' maka mesti Allah akan menyingkap aibnya walaupun ia bersembunyi (di balik pengakuan sebagai salafy). (Al Fawakihul Jaliyyah hal.27).
AFM
BERANI BERDUSTA ATAS NAMA NABI? SILAHKAN MASUK NERAKA
Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
Berdusta atas nama seseorang, walaupun bukan orang yang mulia, merupakan dosa besar, lalu bagaimana jika berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم, yang perkataan dan perbuatannya merupakan syari’at? Pasti, berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan kemungkaran dan dosa yang besar. Imam al-Bukhâri meriwayatkan:
عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]
Berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم sama dengan berdusta dalam syari’at dan dampaknya menimpa seluruh umat. Oleh karena itu, dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat.
Dalam hadits lain, Nabi صلى الله عليه وسلم menegaskan:
لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ
Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Al-Bukhâri, no. 106 dan Muslim, no. 1]
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Barangsiapa menceritakan sebuah hadits dariku, dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah]
APAKAH BERDUSTA ATAS NABI MERUPAKAN KEKAFIRAN?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah memberikan perincian dalam masalah ini dalam kitab ash-Shârimul Maslûl ‘ala Syâtimir Rasûl. Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat (ulama) tentang hadits ini:
Pertama: Berpegang dengan zhahirnya, yaitu hukum bunuh terhadap orang yang sengaja berdusta atas Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka ini ada yang berpendapat kafirnya dengan sebab itu. Ini pendapat sekelompok Ulama, di antaranya Abu Muhammad al-Juwaini.
Ibnu ‘Aqîl menyatakan dari gurunya, Abul Fadhl al-Hamdani, yang berkata, “Para pembuat bid’ah dalam agama Islam, para pendusta dan pembuat hadits palsu, lebih berbahaya daripada orang-orang mulhid (ateis). Karena orang-orang mulhid berniat merusak agama dari luar, sedangkan mereka ini berniat merusak agama dari dalam. Maka mereka ini seperti penduduk kota yang berusaha melakukan kerusakan keadaan-keadaan kota, sedangkan orang-orang mulhid seperti orang-orang yang mengepung dari luar. Orang-orang yang berada di dalam akan membukakan pintu benteng, sehingga mereka lebih buruk terhadap agama Islam daripada orang-orang yang bukan pemeluknya.”
Penjelasannya adalah berdusta atas Nabi merupakan bentuk berdusta atas nama Allâh سبحانه وتعالى. Oleh karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ
Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain
Karena perkara yang diperintahkan oleh Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم juga diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى, wajib untuk diikuti sebagaimana wajibnya mengikuti perintah Allâh سبحانه وتعالى.
Dan perkara yang diberitakan oleh Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم wajib diyakini seperti wajibnya meyakini perkara yang diberitakan oleh Allah سبحانه وتعالى. Barangsiapa mendustakan berita dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam atau tidak mau meyakini perintah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , maka dia seperti orang yang mendustakan berita dari Allah سبحانه وتعالى atau tidak mau meyakini perintah Allâh سبحانه وتعالى. Dan telah diketahui bahwa barangsiapa berdusta atas nama Allâh سبحانه وتعالى, dengan mengatakan bahwa dirinya utusan Allâh سبحانه وتعالى, atau Nabi-Nya, atau dia memberitakan suatu berita dari Allâh سبحانه وتعالى padahal dia bohong sebagaimana Musailamah, al-‘Ansi, dan para nabi palsu lainnya, maka dia kafir, halal darahnya.
Demikian juga orang yang sengaja berdusta atas nama Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم , karena kedudukan berdusta atas Allâh sama dengan mendustakan-Nya. Oleh karenanya, Allâh سبحانه وتعالى menggabungkan keduanya dengan firmanNya:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ
Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allâh سبحانه وتعالى atau mendustakan al-haq (kebenaran) tatkala al-haq itu datang kepadanya? [Al-‘Ankabût/29: 68]
Bahkan kemungkinan berdusta atas nama Allâh سبحانه وتعالى lebih besar dosanya daripada mendustakan berita-Nya. Oleh karena itu, Allâh سبحانه وتعالى lebih mendahulukannya. Sebagaimana orang yang jujur berbicara tentang Allâh سبحانه وتعالى lebih tinggi derajatnya daripada orang yang membenarkan berita-Nya. Maka jika orang yang berdusta seperti orang yang mendustakan, atau bahkan lebih besar, dan orang yang berdusta Allâh سبحانه وتعالى seperti orang yang mendustakan beritaNya, maka orang yang berdusta atas nama Rasul sama seperti orang yang mendustakannya, karena perbuatan mendustakan sama dusta. Karena mendustakan beritanya sama dengan menyataan bahwa dia tidak benar dalam beritanya, dan itu sama saja dengan menganggap agama Allâh سبحانه وتعالى itu bathil. Tidak ada beda antara mendustakannya dalam satu berita atau dalam dalam seluruh berita. Dan dia menjadi kafir karena hal itu memuat pembatalan terhadap risalah dan agama Allâh سبحانه وتعالى. Sedangkan orang yang berdusta atas nama-Nya, dengan sengaja telah memasukkan ke dalam agama Allâh سبحانه وتعالى suatu perkara yang bukan dari agama Islam, dan dia menganggap bahwa wajib bagi umat ini membenarkan berita tersebut dan melaksanakannya, karena itu merupakan bagian agama Allâh سبحانه وتعالى, padahal dia tahu itu bukan bagian dari agama Allâh سبحانه وتعالى. Menambahkan (sesuatu) ke dalam agama sama hukumnya dengan mengurangi (sesuatu) darinya. Dan tidak ada bedanya orang yang mendustakan satu ayat al-Qur’ân, atau sengaja menambahkan satu kalimat yang dia katakan sebagai surat dari al-Qur’ân.
Demikian juga, sesungguhnya sengaja berdusta atas nama Allâh سبحانه وتعالى merupakan perbuatan memperolok-olok dan merendahkan Allâh د سبحانه وتعالى. Karena dia mengatakan bahwa Allâh سبحانه وتعالى memerintahkan perkara-perkara yang tidak pernah diperintahkan oleh Allâh سبحانه وتعالى, atau bahkan ada kemungkinan tidak boleh diperintahkan. Ini berarti menyemat sifat bodoh atau tidak tahu kepada Allâh سبحانه وتعالى. Atau dia memberitakan perkara-perkara dusta, ini berarti menisbatkan dusta kepada Allâh سبحانه وتعالى, dan ini merupakan kekafiran yang nyata.
Demikian juga seandainya dia mengatakan bahwa Allâh سبحانه وتعالى mewajibkan puasa satu bulan selain pada bulan Ramadhan, atau mewajibkan shalat keenam, dan semacamnya, atau bahwa Allâh سبحانه وتعالى mengharamkan roti dan daging dan lain sebagainya. Jika dia tahu dan sadar dengan perbuatan dustanya, maka dia menjadi kafir berdasarkan kesepakatan (Ulama).
Maka barangsiapa mengatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mewajibkan sesuatu yang Beliau صلى الله عليه وسلم tidak wajibkan, atau Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengharamkan sesuatu yang Beliau صلى الله عليه وسلم tidak haramkan, maka dia telah berdusta atas nama Allâh سبحانه وتعالى, sebagaimana dia telah berdusta atas Nabi صلى الله عليه وسلم sejak awalnya, ditambah lagi dia mengatakan dengan terang-terangan bahwa Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم mengucapkannya, atau Beliau صلى الله عليه وسلم memberikan fatwa dan berkata, padahal dia tidak mengatakannya dengan ijtihad dan istimbath.
Intinya barangsiapa sengaja berdusta secara nyata atas nama Allah سبحانه وتعالى, maka dia seperti orang yang sengaja mendustakan Allâh سبحانه وتعالى, atau bahkan keadaannya lebih buruk. Dan jelas bahwa orang yang berdusta atas nama seseorang yang wajib untuk diagungkan, maka dia itu meremehkannya dan merendahkan kehormatannya.
Demikian juga orang yang berdusta atas nama seseorang, dia pasti memberikan citra buruk kepadanya dan merendahkannya…
Adapun orang yang meriwayatkan sebuah hadits dan dia mengetahui bahwa itu dusta, maka ini haram (hukumnya) sebagaimana telah shahih bahwa Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
Barangsiapa menceritakan sebuah hadits dariku, padahal dia tahu bahwa hadits itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta
Tetapi dia tidak kafir, kecuali dia memasukkan di dalam riwayatnya sesuatu yang menyebabkan kekafiran. Karena dia jujur saat mengatakan bahwa gurunya telah menceritakan hadits itu kepadanya, tetapi karena dia mengetahui bahwa gurunya berdusta dalam hadits tersebut maka dia tidak halal meriwayatkannya. Sehingga kedudukannya seperti bersaksi atas pernyataan atau persaksian atau perjanjian, sedangkan dia mengetahui bahwa hal itu batil. Persaksian tersebut haram hukumnya, tetapi bukan persaksian palsu”.
Kemudian Syaikhul Islam menyebutkan pendapat kedua, dia berkata:
“Pendapat kedua: bahwa orang yang berdusta atas Nabi صلى الله عليه وسلم hukumannya berat, tetapi tidak menjadi kafir, dan dia tidak boleh dibunuh. Karena penyebab kekafiran dan pembunuhan telah diketahui, sementara ini tidak termasuk di dalamnya. Maka tidak boleh menetapkan sesuatu yang tidak ada dalilnya.
Tetapi Ulama yang berpendapat dengan pendapat ini harus mensyaratkan pendapatnya, bahwa berdusta atas Nabi صلى الله عليه وسلم itu tidak memuat celaan yang nyata. Adapun jika seseorang memberitakan bahwa dia mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم mengucapkan suatu perkataan yang menunjukkan kekurangan dan cacat Nabi صلى الله عليه وسلم dengan nyata, seperti hadits “keringat kuda” dan kedustaan-kedustaan semacamnya, maka orang yang meriwayatkan ini memperolok-olok Nabi صلى الله عليه وسلم dengan nyata, maka tidak diragukan bahwa dia kafir, halal darahnya”. [Diringkas dari as-Shârimul Maslûl ‘ala Syâtimir Rasûl, 2/328-339]
Kesimpulannya, bahwa berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم merupakan dosa besar dan akibatnya akan menimpa umat ini selain pasti menimpa pelakunya. Maka orang yang berdusta atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم hendaklah berhati-hati. Semoga Allâh سبحانه وتعالى menjaga semua dari segala keburukan, dan menuntun kita di dalam segala kebaikan.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
Referensi : https://almanhaj.or.id/4204-berani-berdusta-atas-nama-nabi-silahkan-masuk-neraka.html
Via HijrahApp
MUSIBAH DAN UJIAN ADALAH SUNNATULLAH BAGI PARA HAMBA
🌹Bismillah was shalatu was salamu 'ala Rasulillah wa ba'du.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا يَزَال الْبَلاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمؤمِنَةِ في نَفْسِهِ وَولَدِهِ ومَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّه تعالى وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
"Cobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman baik laki-laki ataupun perempuan baik berkaitan dengan dirinya, anaknya ataupun hartanya sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa." [HR. At-Tirmidzi no. 2399, Imam Tirmidzi berkata, hadis ini hasan shahih]
🌟 Faidah Hadis:
Hadis ini memberikan faidah-faidah berharga, di antaranya:
1. Pelajaran berharga bahwa musibah dan ujian itu merupakan sunnatullah yang berlaku atas para hamba.
2. Siapa saja yang sudah menyatakan dirinya beriman maka dia pasti akan mendapatkan cobaan dan ujian. Hal ini juga ditegaskan dalam sebuah ayat:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُون
"Apakah manusia itu mengira bahwasanya mereka akan dibiarkan begitu saja setelah mengucapkan ‘Kami beriman’ sementara mereka tidak akan mendapatkan cobaan dan ujian." [QS. Al-‘Ankabuut: 2]
3. Musibah dan ujian yang dialami seorang Muslim itu bermacam macam, adakalanya berkaitan dengan dirinya, anak keturunannya atau harta benda yang dimilikinya, dan kabar gembira (akhir bahagia) itu adalah bagi orang yang bersabar dalam menghadapi semua itu. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِين
"Dan sungguh Kami (Allah) akan memberikan cobaan kepada kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa dan buah buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang orang yang sabar." [QS. Al-Baqarah: 155]
4. Penjelasan tentang salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu perjumpaan dengan Allah Ta’ala.
5. Salah satu aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwasnya Allah Ta’ala bisa dilihat kelak di akhirat. Adapun di dunia maka tidak ada seorang pun yang bisa melihat Allah Ta’ala.
6. Hikmah dari cobaan dan ujian bagi seorang yang beriman adalah sebagai penghapus dosa juga pelebur kesalahan.
7. Keutamaan orang yang beriman di mana ujian dan cobaan yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepadanya itu bukan sebagai siksaan dan adzab melainkan sebagai penghapus dosa. Hal ini berbeda dengan orang yang tidak beriman, cobaan dan musibah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka itu sebagai hukuman dan siksaan yang disegerakan di dunia di samping adzab dan siksaan yang lebih berat dan kekal di akhirat selama mereka tidak bertaubat sebelum meninggal.
8. Rahmat kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang begitu luas dan besar terhadap hamba-hambaNya yang beriman.
[Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Shalih Al Utsaimin rahimahullah dan Kitab Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy]
والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
💻 Sumber: https://bimbinganislam.com/fawaid-hadist-37-musibah-dan-ujian-adalah-sunnatullah-bagi-para-hamba/
KEGUNDAHAN DAN USAHA MENGHILANGKANNYA
Kesedihan dan kepedihan ini bisa disebabkan oleh hal-hal yang telah lewat, atau berkenaan dengan hal yang dikhawatirkan akan terjadi nanti, maupun kepedihan yang tengah dialami.
Kadang seseorang berduka hati ketika mengingat masa lalu yang pahit. Atau dirundung kekhawatiran ketika membayangkan derita yang diperkirakan akan menimpa. Juga terkadang ia diliputi kegundahan dan duka mendalam ketika musibah tengah mendera.
Oleh karena itu para Ulama’ mengatakan bahwa rasa sakit di hati jika berkaitan dengan masa lalu disebut denga al – huzn(kesedihan). Sedangkan jika berkaitan dengan hal yang akan terjadi di masa yang akan datang dinamakan al-hamm(kekhawatiran). Adapun jika berkaitan dengan masa sekarang dinamakan al-ghamm (kegundahan).
Ketiga hal tersebut (kesedihan, kekhawatiran dan kegundahan) adalah gejolak hati, yang jika hati telah ditimpa hal tersebut, maka akan membuatnya lemah, susah tidur, pikiran tak tenang, sikap dan prilakunya pun menjadi tidak stabil.
Bahkan ini bisa terlihat nyata dari raut wajahnya. Karenanya terkadang ketika kita bertemu dengan seorang teman, meski tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan, kita bisa langsung menerka bahwa ia sedang bersedih.
Hal itu tidak lain karena kegundahan hatinya terlihat nyata di raut wajahnya, terlebih jika kegundahan itu begitu berat. Keadaan seperti ini bisa menimpa setiap orang, disebabkan keadaan dan situasi yang silih berganti.
Kemudian jika kita perhatikan, setiap orang menempuh berbagai cara untuk menghilangkan kegundahan hatinya. (Mulai dari cara yang gratis sampai yang berbayar, baik yang berbiaya murah ataupun yang berbiaya mahal, bahkan super mahal pun mereka lakukan, demi menghilangkan kegundahan hatinya-red).
Namun (mereka tidak akan berhasil meraihnya, karena –red) tidak lain cara terbaik dan obat termanjurnya adalah dengan sepenuh hati kembali kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Dengan menghambakan diri kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengingat ( dzikir ) dan mengagungkan-Nya, menyibukkan hati dengan tauhid dan iman, serta bermunajat kepadanya-Nya.
Dengan ini, niscaya kesedihan, kekhawatiran dan kegundahan akan sirna. Tak ada sedikitpun yang tersisa.
Dzikir adalah kunci ketenangan hati, kesejukan jiwa dan penghilang kesedihan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allâh, ketahuilah dengan mengingat Allâh hati menjadi tenang” [Ar-Ra’d/ 13: 28].Baca Juga Doa Berlindung Dari Hilangnya Nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Jadi, ketenangan hati, hilangnya kesedihan dan kegundahan, hanya bisa dicapai dengan mengingat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , mengagungkan dan beriman kepada-Nya dengan sepenuh hati.
Kesimpulannya ; bahwa dzikir adalah obat dan penawar penyakit hati .
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengajarkan dzikir-dzikir yang dianjurkan untuk dibaca dan ditekuni oleh siapa saja yang sedang ditimpa kesusahan, kesedihan dan kegundahan, agar semua rasa itu hilang darinya.
Dzikir-dzikir tersebut termaktub dalam kitab-kitab hadits para Ulama’. Berikut kami sebutkan beberapa do’a dan dzikir sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dianjurkan untuk dibaca oleh setiap orang yang tertimpa kesusahan dan kesedihan.
Imam al-Bukhâri rahimahullah dan Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditimpa kesusahan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ; لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala Pemilik dan Penguasa Arsy’ yang agung; Tiada ilah (tuhan) yang berhak diibadahi kecuali Allâh Subhanahu wa Ta’ala Pemilik dan Penguasa langit, bumi dan Arsy yang mulia. ” [1]
Imam Abu Daud meriwayatkan hadits dari Asmâ’ binti Umais, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku: “ Maukah aku ajarkan kepadamu do’a yang hendaknya engkau baca di waktu sulit?! Engkau mengucapkan:
أَللَّهُ أَللَّهُ رَبِّي لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Allâh, Allâh adalah Rabbku; aku tidak menyekutukan-Nya dengan apapun . [2]
Imam Abu Daud juga meriwayatkan hadits dari Abu Bakrah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Doa orang yang ditimpa kesusahan adalah:
اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Ya Allâh , semata-mata hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka jangan kau biarkan aku mengurus diriku sendiri walau sekejap mata sekalipun, dan perbaikilah segala urusanku, tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”. [3]
Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
Baca Juga Pendukung Dan Penghalang Dari Taubat
“ Do’a nabi Yunus ketika ia berada di dalam perut ikan:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ
(Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan haq kecuali engkau, sungguh aku adalah hamba yang zhalim ) , sesungguhnya tidaklah seorang muslim membacanya untuk suatu keperluan melainkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengabulkannya ”. [4]
Keempat hadits agung dan sahih di atas, mengajarkan do’a penawar kegundahan hati setiap insan, penghilang kesedihan dan kesusahan. Sungguh, demi Dzat Yang tidak ada yang berhak disembah selan Dia, jika seorang hamba membaca do’a-do’a tersebut dengan penuh penghayatan, niscaya tak akan tersisa secuil pun kegundahan di hatinya.
Karena do’a tersebut adalah penawar hati yang manjur lagi penuh berkah. Namun saat membacanya harus dibarengi dengan penghayatan makna, lalu merealisasikan isi kandungannya.
Para Ulama berkata, “Bahwa membaca do’a-do’a yang ma’tsur (sahih) tanpa memahami makna dan mentadaburi isi kandungannya, berefek kurang maksimal dan minim faedah”. Oleh karena itu, kita harus memahami makna dzikir-dzikir kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
Umumnya kita sering dan tekun membaca do’a-do’a yang diajarkan syariat, tapi tidak menghayati maknanya, sehingga hasilnya pun kurang maksimal.
Jika kita perhatikan dengan seksama keempat do’a di atas, niscaya kita dapati bahwa keseluruhannya bermuara pada satu titik temu, yaitu; merealisasikan tauhid yang menjadi tujuan penciptaan seluruh hamba.
Tauhid yang bermakna mengikhlaskan ibadah dan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Itulah tempat kembali terbaik bagi manusia setiap kali diterpa kesulitan dan kesedihan.
Dan itu tidak akan hilang kecuali dengan merealisasikan tauhid dan kembali sepenuhnya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keikhlasan.
___
Footnote
[1] HR. Al-Bukhâri, no. 6346 dan Muslim, no. 2703
[2] HR. Abu Daud, no. 1525; Ibnu Majah, no. 3882; Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh at-Targhîb , no. 1284
[3] HR. Abu Daud, no. 5090. Hadits ini dinayatakan sebagai hadits hasan dalam kitab Shahîh al-Jâmi , no. 3388
[4] HR. At-Tirmidzi, no. 3505. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahîh al-Jâmi , no. 3383
sumber: https://almanhaj.or.id/9439-kegundahan-dan-usaha-menghilangkannya.html
Via HijrahApp
Rabu, 13 April 2022
Rahasia Iyyaaka Na'budu Wa Iyyaaka Nasta'iin
Penghambaan merupakan wujud menghinakan diri dan merendahkan diri maka tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah, baik benda-benda yang dikeramatkan, makhluk yang dikultuskan, tempat-tempat yang disakralkan.
Karenanya di dalam sholat sehari semalam kita senantiasa melisankan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin (hanya kepada Engkaulah kami menghamba dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan).
Maknanya dijelaskan oleh Syaikh Al-'Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad, beliau mengatakan,
(إياك نعبد وإياك نستعين) يدل على توحيد الألوهية وتقديم المفعول على الفعلين يدل على الحصر
"Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin ayat ini menunjukkan esensi tauhid uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam penghambaan. Dan mendahulukan maf'ul (objek) yaitu iyyaaka atas dua fi'il (kata kerja) yaitu na'budu dan nasta'in dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan pembatasan.
وأن العبادة لا تكون إلا لله وأن الاستعانة فيما لا يقدر عليه إلا الله لا تكون إلا بالله
Dan ibadah serta penghambaan hanya ditujukan kepada Allah semata. Begitupula meminta pertolongan jika hanya Allah yang kuasa memenuhinya maka tidak boleh dipintakan kepada selain-Nya."
(Kutub wa Rosa'il 1/151)
Inilah yang disebut dengan pemurnian ibadah. Yaitu ikhlas niatnya hanya karena Allah, yang dicari hanya keridhoan Allah, yang dituju hanya Allah, dan caranya mengikuti petunjuk Rosulullah ﷺ.
Seorang hamba juga harus menyadari bahwa dirinya tidak mampu beribadah kepada Allah kecuali karena pertolongan Allah dan kekuatan dari-Nya.
Siapa yang benar-benar merealisasikan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'in maka Allah akan menganugerahkan kepadanya keamanan serta petunjuk dunia akhirat.
Mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling utama dan para awliya Allah yang sesungguhnya.
https://t.me/manhajulhaq
Mengaku Bertemu Roh Nabi Muhammad ﷺ dalam Kondisi Sadar?
Ahsanallah ilaikum ustadz, apakah mungkin melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara langsung setelah beliau wafat seperti yang diakui sebagian orang?
Jawab: Orang yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam keadaan sadar hanya di antara dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, dia berdusta meski bersumpah atas nama Allah. Kemungkinan kedua yang mendatanginya adalah syaithon dari kalangan jin yang mengaku sebagai Nabi ﷺ.
Syaithon memang tidak mampu menyerupai diri Nabi ﷺ, akan tetapi dia bisa berdusta mengaku sebagai Nabi untuk mempermainkan orang yang jauh dari aqidah yang benar.
Pengakuan semacam itu telah diingkari oleh para ulama antara lain Al-Imam As-Sakhowi salah seorang ulama madzhab Syafii, beliau berkata:
لم يصل إلينا ذلك عن أحد من الصحابة ولا عن من بعدهم وقد اشتد حزن فاطمة عليه صلى الله عليه وسلم حتى ماتت كمدا بعده بستة أشهر - على الصحيح- وبيتها مجاور لضريحه الشريف، ولم ينقل عنها رؤيته فى المدة التى تأخرت عنه
"Tidaklah sampai kepada kami pengakuan seperti itu dari seorangpun dari kalangan shohabat Nabi, tidak pula dari orang-orang sepeninggal para shohabat. Sungguh dahulu Fathimah dirundung duka lantaran wafatnya Nabi ﷺ sehingga Fathimah meninggal dunia karenanya setelah enam bulan menurut pendapat yang shohih. Sedangkan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi yang mulia, tetapi tidak ada riwayat yang menyebutkan Fathimah melihat Nabi ﷺ selama itu dalam keadaan sadar."
(Al-Mawahibul Laduniyah 5/295)
Fathimah adalah salah seorang puteri Nabi ﷺ, orang yang dicintai beliau, dan rumah Fathimah berdekatan dengan makam Nabi ﷺ, tetapi Fathimah tidak pernah mengaku didatangi Nabi ﷺ. Padahal Fathimah orang yang lebih berhak dibandingkan orang lain di zaman ini.
Para ulama kontemporer yang tergabung dalam komite riset ilmiah dan fatwa juga mengingatkan:
وأما دعوى بعض الصوفية أنه يرى النبي صلى الله عليه وسلم يقظة فشيء لا أصل له بل هو باطل وإنما يرى صلى عليه وسلم يوم القيامة
"Adapun pengakuan sebagian orang-orang tarekat shufi yang mengaku melihat Nabi ﷺ dalam kondisi sadar maka itu perkara yang tidak ada asalnya sama sekali, bahkan itu jelas kebatilan, Nabi ﷺ hanya dapat dilihat secara langsung pada hari kiamat."
(Fatwa Lajnah no. 5553 ketua Syaikh Al-'Allamah bin Baz)
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada petunjuk ilmu dan pemahaman yang benar, wa billahit tawfiq.
https://t.me/manhajulhaq










